Banjir di Wilayah Argasunya-Kalijaga, Diduga Akibat Kelalaian Pintu Air dan Lemahnya Infrastruktur Sungai

Banjir di Wilayah Argasunya-Kalijaga
TINJAU LANGSUNG: Wakil Walikota Cirebon Siti Farida Rosmawati (kiri) meninjau lokasi dan warga terdampak banjir di Kecamatan Harjamukti, kemarin. Foto: Cecep Nacepi/Radar Cirebon
0 Komentar

Ia memastikan kondisi warga terdampak dalam keadaan sehat dan menyatakan Pemkot Cirebon tengah mencari solusi jangka panjang. Pemkot, kata dia, telah berkoordinasi dengan BBWS untuk melakukan normalisasi sungai serta meninggikan tanggul agar air tidak kembali meluap. Ia juga mengimbau warga untuk tidak membuang sampah sembarangan.

Sementara itu, banjir juga menyebabkan Tembok Penahan Tanah (TPT) di RW 02 Kelurahan Kalijaga ambruk diterjang derasnya aliran Sungai Gagareto. TPT yang diketahui baru dibangun pada Agustus 2025 tersebut roboh pada Senin sore sekitar pukul 17.00–17.30 WIB.

Ketua RW 02 Kalijaga, Kurdika, menjelaskan derasnya arus sungai yang berada di tikungan memperbesar tekanan ke arah TPT. Kondisi konstruksi yang dinilai kurang baik membuat bangunan tidak mampu menahan debit air. “Dengan tekanan air yang kuat dan konstruksi yang kami nilai kurang bagus, tembok itu ambruk dan air masuk ke rumah warga,” ujarnya.

Baca Juga:Walikota dan Ratusan ASN akan Pindah dari Gedung Setda ke Grage Mall CitySawit Gaib di Cigobang Dicabut Lebih dari 300 Batang dengan Usia Sekitar 4 Bulan

Warga menilai kualitas bangunan TPT sangat memprihatinkan. Bahkan, puing-puing bangunan terlihat rapuh dan diduga pengerjaannya mengurangi material semen. Akibat kejadian tersebut, air masuk ke permukiman hingga Selasa dini hari. Meski demikian, warga menunjukkan solidaritas dengan bergotong royong membersihkan lumpur dan memperbaiki akses jalan.

Wakil Wali Kota Cirebon bersama lurah setempat telah meninjau lokasi TPT ambruk tersebut. Warga berharap Pemkot Cirebon, khususnya Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR), segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pembangunan infrastruktur sungai dan memberikan solusi permanen agar banjir serupa tidak terulang. “Jangan sampai bangunan baru tapi kualitasnya buruk. Kami minta perhatian serius,” tegas Kurdika. (*)

0 Komentar