RADARCIREBON.ID- Program homestay SMP Negeri 6 Kota Cirebon dengan nominal Rp700 ribu per siswa memicu kegaduhan di media sosial. Isu itu berkembang liar setelah beredar unggahan Facebook yang menyebut kegiatan tersebut membebani orang tua, bahkan dinarasikan seolah wajib diikuti dengan konsekuensi biaya tertentu.
Pihak sekolah akhirnya angkat bicara. Meluruskan duduk persoalan yang disebut berawal dari miskomunikasi. Dalam unggahan yang viral, warganet menyoroti rencana kegiatan homestay kelas VIII selama tiga hari dua malam di Desa Wisata Cibuntu Kuningan. Unggahan tersebut dilengkapi tangkapan layar Rencana Anggaran Biaya (RAB) dengan total Rp700 ribu per siswa.
Narasi unggahan itu menyebutkan, siswa yang tidak mengikuti homestay tetap diminta melaksanakan homestay mandiri, yang kemudian ditafsirkan sebagian publik sebagai kewajiban terselubung. Unggahan yang beredar di Facebook memperlihatkan kolom komentar yang dipenuhi reaksi beragam.
Baca Juga:PDAM Kota Cirebon Siagakan Mobil-mobil Tangki untuk Kirim Air Bersih ke Pelanggan TerdampakKeuangan Merosot, PD Pembangunan Kota Cirebon Akui Rumahkan Karyawan
Ada yang mempertanyakan urgensi kegiatan, ada pula yang menyindir. Seorang warganet menulis, “Kegiatan yang intinya cari cuan itu.” Komentar lain menyebut, “Berapa siswa kali Rp700 ribu, ehmmm… bagi-bagi,” disertai emoji senyum. Bahkan ada yang menilai homestay ini sebagai “akal-akalan pengganti study tour.”
Di sisi lain, muncul komentar bernada keprihatinan. Seorang netizen mengungkapkan kebingungannya menyekolahkan cucu di SMP negeri karena meski tanpa SPP dan study tour, tetap ada biaya lain yang dirasa berat. Unggahan dan komentar tersebut dengan cepat menyebar dan memantik respons emosional publik.
Menanggapi polemik itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMPN 6 Cirebon yang juga Wakil Ketua Pelaksana Homestay, Taufik Yulianto SPd, menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya benar.
“Sebenarnya bukan dibebankan, ya. Homestay itu sudah menjadi program SMPN 6 sejak lama. Saya di sini sejak 2020, dan program itu sudah ada sebelumnya,” kata Taufik kepada Radar Cirebon di sekolah setempat, Jumat (6/2/2026).
Ia menjelaskan, kegiatan homestay sempat dihentikan selama pandemi Covid-19 karena kondisi yang tidak memungkinkan. Upaya mengaktifkan kembali program tersebut pada tahun 2022–2023 juga batal lantaran ekonomi masyarakat belum pulih. “Setelah Covid, ekonomi masyarakat menurun. Jadi tidak memungkinkan dilaksanakan. Baru tahun ini kita coba lagi,” ujarnya.
