Menurut Taufik, homestay bukan kegiatan wisata, melainkan bagian dari co-curricular dalam struktur pendidikan. Dalam sistem pendidikan, terdapat intra-curricular (pembelajaran di kelas), extra-curricular (kegiatan di luar jam pelajaran), dan co-curricular yang bertujuan menanamkan karakter siswa melalui pembelajaran kontekstual. “Untuk kelas tujuh, co-curricular-nya alih pangkalan atau camping. Untuk kelas delapan, co-curricular-nya homestay,” jelasnya.
Ia menegaskan, penentuan nominal Rp700 ribu bukan berasal dari sekolah. Angka tersebut merupakan hasil kesepakatan antara komite sekolah dan orang tua siswa dalam rapat resmi. “Yang membahas biaya itu orang tua dan komite. Sampai ada kesepakatan Rp700 ribu. Pihak sekolah tidak ada sangkut pautnya sama sekali,” tegas Taufik.
Sekolah, kata dia, bahkan mengusulkan agar biaya tidak terlalu mahal, mengingat sekolah lain juga melaksanakan kegiatan serupa di lokasi yang sama. Setelah negosiasi harga dengan pengelola Desa Wisata Cibuntu, pembahasan biaya sepenuhnya diserahkan kepada komite dan orang tua.
Baca Juga:PDAM Kota Cirebon Siagakan Mobil-mobil Tangki untuk Kirim Air Bersih ke Pelanggan TerdampakKeuangan Merosot, PD Pembangunan Kota Cirebon Akui Rumahkan Karyawan
Terkait isu yang menyebut siswa tetap harus membayar meski tidak ikut homestay di destinasi, Taufik dengan tegas membantah. “Itu tidak benar. Kalau tidak ikut ke destinasi, tidak bayar,” katanya.
Sekolah juga menyediakan alternatif homestay mandiri bagi siswa yang terkendala biaya atau memiliki alasan lain. Alternatif ini memungkinkan siswa melaksanakan kegiatan homestay di rumah sendiri atau di rumah saudara, tanpa pungutan biaya.
“Di rumah pun tetap ditanamkan karakter. Bangun pagi, bantu orang tua, menyapu, mencuci piring, bahkan membantu berkebun. Itu sama dengan yang di destinasi,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa kegiatan di Desa Wisata Cibuntu bukan sekadar jalan-jalan. Siswa akan diajarkan aktivitas berbasis kearifan lokal, seperti menanam padi dan membatik. Seluruh kegiatan dirancang untuk pembentukan karakter dan kemandirian siswa.
Untuk siswa yang menjalani homestay mandiri, pengawasan tetap dilakukan oleh sekolah melalui wali kelas. “Komunikasi dengan orang tua tetap berjalan. Kegiatan anak dipantau,” kata Taufik.
Hingga saat ini, pihak sekolah mengklaim belum menerima keluhan langsung dari orang tua. “Belum ada yang datang langsung. Ramainya baru di media sosial,” ujarnya.
