HET MinyaKita Rp15.700 Harus Dipatuhi, di Lapangan Banyak yang Dijual Rp19.000

Mentan Amran
PENGAWASAN: Sidak Pasar Kebayoran Lama, Mentan Amran temukan MinyaKita dijual Rp19 Ribu dan minta rantai distribusi diusut. Foto: Istimewa 
0 Komentar

Namun, jika di dalam negeri harga minyak goreng justru melonjak, maka ada faktor yang harus diluruskan.

Ia mengingatkan posisi Indonesia yang sangat dominan di industri sawit dunia. Dengan kontribusi sekitar 58 persen produksi global dan 56 persen ekspor dunia, Indonesia memiliki bahan baku melimpah.

Karena itu, Amran menilai tidak ada alasan bagi minyak goreng menjadi langka atau mahal di pasar dalam negeri. Produksi sawit, kata dia, semestinya menghadirkan manfaat langsung bagi masyarakat melalui ketersediaan pangan yang stabil dan harga yang masuk akal.

Baca Juga:Festival Ramadan untuk Semua Warga CirebonBPBD Minta Masyarakat Cirebon Tetap Waspada, Cuaca Ekstrem

Amran menegaskan pemerintah tidak berniat menghambat usaha para pelaku bisnis. Namun ia meminta pelaku usaha mematuhi aturan dan tidak mengambil keuntungan berlebihan, terutama menjelang bulan puasa saat kebutuhan rumah tangga meningkat.

Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan momentum Ramadan untuk bermain harga dan mengganggu ketertiban pasar. Bagi pelanggaran yang dilakukan secara sengaja dan merugikan publik, ia mendorong tindakan tegas.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan kuatnya posisi sawit Indonesia di pasar internasional. Nilai ekspor CPO dan produk turunannya sepanjang Januari–Desember 2025 tercatat USD24,42 miliar, naik 21,83 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD20,05 miliar. Bagi Amran, capaian ini seharusnya selaras dengan ketersediaan dan keterjangkauan minyak goreng di dalam negeri.

Pemerintah, kata Amran, akan memperkuat pengawasan distribusi, mendorong operasi pasar berkelanjutan bila diperlukan, serta memastikan penegakan hukum berjalan terhadap pelaku yang terbukti memainkan harga atau pasokan.

Tujuannya jelas: minyak goreng tidak boleh menjadi komoditas yang mahal di negeri produsen utama sawit dunia, apalagi menjelang periode konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri.

0 Komentar