Petugas KAI Kini Sibuk di Jalur Mudik 2026, Ritme Kerja Berubah, Satu Shift Awasi 65 Kereta Api

Petugas KAI Kini Sibuk di Jalur Mudik 2026
LEBIH PADAT: Asir sedang bertugas menjaga perlintasan JPL 200 Krucuk, Kota Cirebon, Senin (16/3/2026). Pada musim mudik seperti saat ini, catatan perjalanan kereta harus terus diperbarui dan dilakukan dengan cepat. Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Arus kereta meningkat. Jadwal makin rapat. Pintu perlintasan lebih sering tertutup. Di balik ritme itu, ada petugas yang berdiri sendiri menjaga keselamatan. Salah satunya Asir, 36 tahun. Petugas penjaga perlintasan JPL 200 Krucuk, Kota Cirebon.

Musim mudik membuat tugasnya lebih padat. Lebih cepat. Lebih menuntut ketelitian. Di ruang kecil pos jaga, aktivitas tak pernah benar-benar berhenti. Telepon berdering. Sirine berbunyi. Catatan perjalanan kereta harus terus diperbarui. Semua dilakukan dengan cepat.

Asir terlihat berdiri di dalam pos jaga yang menghadap langsung ke jalur rel. Seragam oranye terang yang dikenakannya mencolok di antara warna dinding pos.

Baca Juga:Musim Mudik Sewa Mobil Meningkat Tajam, 8.664 Unit Sold Out Bisnis Rental Mobil di CiayumajakuningASN Eselon II Kota Cirebon Dilarang Mudik

Di depannya, buku catatan terbuka. Ia menunduk, menulis jadwal kereta yang baru saja lewat. Di sampingnya terdapat panel kendali dan sejumlah alat komunikasi.

Dari jendela kaca pos, terlihat jalan raya yang dipadati kendaraan. Sepeda motor dan mobil melintas bergantian di dekat perlintasan. Setiap kereta yang melintas tidak boleh luput dari pencatatan. Semua harus tercatat. “Setiap keluar masuknya kereta itu kita jadwal, dicatat. Karena ini laporan,” ujarnya kepada Radar Cirebon.

Menjelang arus mudik Lebaran, jumlah perjalanan kereta meningkat. Jika pada hari biasa jumlah kereta yang dilayani dalam satu shift di bawah 50 perjalanan, kini meningkat tajam. Dalam satu shift, Asir harus mengawasi 64 sampai 65 kereta.

Lonjakan itu terjadi karena adanya 14 kereta tambahan untuk melayani penumpang mudik. Ritme kerja pun ikut berubah. Kereta yang sebelumnya melintas dengan jarak waktu sekitar 10 menit, kini jauh lebih rapat.

“Sekarang paling lima menit sudah ada lagi,” katanya. Bahkan dalam beberapa kondisi, jeda waktu tidak sampai lima menit. “Kadang belum lima menit sudah tutup lagi palangnya,” lanjutnya.

Padatnya jadwal kereta membuat petugas harus selalu siaga. Tidak ada ruang untuk lengah. Setiap kereta yang melintas memerlukan prosedur yang harus dilakukan dengan tepat. Mulai dari menerima informasi lewat telepon, membunyikan alarm, hingga menutup palang pintu perlintasan.

Prosesnya selalu sama. Tapi tidak pernah boleh salah. Ketika sirine berbunyi, itu menjadi tanda bahwa kereta akan segera melintas. Petugas harus segera mengaktifkan alarm. Lalu menutup pintu perlintasan.

0 Komentar