“Nisan tersebut memiliki bentuk menyerupai gada atau meriam terbalik. Temuan ini dinilai menarik karena merupakan salah satu temuan nisan dengan tipe tersebut yang belum pernah ditemukan sebelumnya di Indramayu,” jelas Pamong Budaya Bidang Cagar Budaya Kabupaten Indramayu, Suparto Agustinus.
Ia mengatakan, pihaknya bersama TACB akan melakukan kajian lebih lanjut untuk mengetahui karakteristik, usia, serta konteks sejarah dari temuan nisan tersebut. Kajian lanjutan diperlukan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap mengenai keberadaan benda bersejarah tersebut.
Sementara itu, Ketua TACB Kabupaten Indramayu, Dedy S Musashi mengatakan, batu nisan bertipe gada yang ditemukan di Desa Dadap tersebut, sebelumnya pernah diteliti oleh arkeolog Nanang Saptono. Temuan itu dikaitkan dengan persebaran peradaban Islam di pesisir Indramayu.
Baca Juga:Dua Siswa SMP Majalengka Berprestasi di Pentas PAI JabarPolres Majalengka Respons Keluhan Warga soal Minimnya Rambu
Menurut Dedy, keberadaan nisan tersebut dapat menjadi petunjuk mengenai adanya hubungan komunikasi antara masyarakat pesisir Indramayu dengan wilayah lain pada masa lalu.
“Nisannya terbuat dari batu andesit. Kita tahu di Indramayu tidak ada sentra material bahan baku tersebut, sehingga harus didatangkan dari daerah lain,” jelas Dedy.
Dedy menjelaskan, nisan makam tipe gada merupakan jenis batu nisan kuno yang berbentuk silindris atau menyerupai senjata gada, dengan bagian atas yang membulat.
“Umumnya berwujud silindrik seperti tabung atau meriam terbalik dengan bagian kepala atau ujung atas yang membesar dan membulat,” katanya.
Menurut Dedy, nisan tipe tersebut juga ditemukan di berbagai situs pemakaman Islam kuno di Indonesia, antara lain di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Persebaran tersebut menunjukkan bahwa bentuk nisan seperti gada bukan merupakan temuan yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari jejak perkembangan pemakaman Islam kuno di sejumlah wilayah Indonesia.
Dalam sejumlah penelitian arkeologi terhadap makam kuno, lanjut dia, nisan berbentuk bulat-silindris seperti gada kerap diidentifikasikan sebagai penanda makam tokoh laki-laki. “Bentuk ini juga kadang dikaitkan dengan pengaruh tradisi atau corak pra-Islam yang diadaptasi pada masa awal masuknya Islam,” pungkasnya.
Dengan adanya kajian tersebut, Pemerintah Desa Dadap berharap keberadaan situs yang diyakini sebagai makam Syekh Sama’un dapat memeroleh perhatian lebih lanjut dari pemerintah. Kajian dan penelitian yang dilakukan TACB diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai sejarah, usia, serta nilai penting dari situs tersebut sebelum nantinya menjadi dasar dalam menentukan status cagar budaya. (dun)
