Eman mengatakan meningkatnya permintaan menjadi angin segar bagi industri genteng Majalengka. Ia mengingat kembali kondisi industri tersebut ketika pandemi Covid-19 berdampak terhadap aktivitas produksi.
“Yang namanya genteng kemarin pada saat masanya jatuh, ketika tahun 2019, ketika Covid. Dari 200 pengusaha tinggal 70,” katanya.
Menurut Eman, tidak seluruh pengusaha yang tersisa masih aktif berproduksi. Karena itu, meningkatnya permintaan melalui program pemerintah diharapkan dapat membuka kembali ruang usaha sekaligus menyerap tenaga kerja.
Baca Juga:Layanan Sidang Isbat Nikah Terpadu di Kuningan Mudahkan Pencatatan NikahPerumda Pasar Berintan Optimistis Target PAD Rp403 Juta Tercapai
Pemkab Majalengka juga mendorong pengrajin meningkatkan standar kualitas melalui sertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI). Eman menyebutkan, sebanyak 35 pengusaha genteng Majalengka telah memiliki SNI.
Meningkatnya permintaan turut berdampak terhadap harga genteng. Eman mengatakan kenaikan harga tidak terlepas dari tingginya permintaan. Namun, ia meminta pelaku usaha membedakan mekanisme penjualan untuk program pemerintah dengan kebutuhan masyarakat umum.
Menurutnya, distribusi genteng untuk program pemerintah memiliki beban operasional tambahan. Barang yang telah dimuat ke truk tidak selalu langsung diberangkatkan karena kendaraan harus menunggu proses pelepasan. Kondisi tersebut membuat biaya operasional dan penyimpanan ikut diperhitungkan.
“Kalau dengan rakyat mungkin akan sama, rakyat biasa belanja akan sama seperti biasa,” ujar Eman.
Karena itu, ia mengimbau pengusaha menerapkan harga secara proporsional dan tidak menyamakan seluruh konsumen.
“Bedakan perlakuannya antara proyek dengan swasta dengan masyarakat biasa,” katanya.
Lonjakan permintaan juga mulai berdampak terhadap tenaga kerja di sentra produksi genteng Majalengka. Menurut Eman, para pengrajin mulai kembali membutuhkan pekerja untuk mengejar kapasitas produksi.
Baca Juga:Komisi III DPRD Kota Cirebon Sidak RSD Gunung JatiPERAK 2026 SDN Sidamulya Sukses, Mabigus Tekankan Pembentukan Karakter Pramuka Penggalang
Kondisi tersebut berbeda dibandingkan ketika industri genteng mengalami penurunan permintaan. Saat ini, meningkatnya kebutuhan membuat aktivitas produksi kembali menggeliat.
Eman juga mendorong pengusaha memberikan perlindungan kepada pekerja melalui kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan.
“Risiko kerja pasti ada. Makanya para pengusaha mari kita bertransformasi, bagaimana ada jaminan BPJS Ketenagakerjaannya,” katanya.
Bagi Eman, program gentengisasi bukan hanya berkaitan dengan penyediaan material pembangunan rumah, tetapi juga berpotensi menggerakkan kembali rantai ekonomi di sentra industri genteng Majalengka, mulai dari pengrajin hingga tenaga kerja.
