Untuk itu, pemerintah tidak bisa hanya bergerak di level elite. Dr Amir mendorong agar penguatan Pancasila dilakukan hingga tingkat kelurahan melalui Focus Group Discussion (FGD) dan forum diskusi terbuka yang melibatkan lintas latar belakang.
“Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk mengenali bahwa narasi intoleransi, radikalisme, dan terorisme itu, berpotensi merusak tatanan sosial berbangsa dan bernegara,” ujarnya.
Menurutnya, cara paling sakti untuk meneguhkan Pancasila bukanlah dengan membangun kebencian baru terhadap kelompok lain, melainkan dengan memperkuat kesadaran kebangsaan itu sendiri.
Baca Juga:Pengurus Orado Kabupaten Cirebon Periode 2026–2030 Resmi Dilantik, Siap Cetak Atlet BerprestasiHadangMu Competition 2026: Olahraga Tradisional dan Kearifan Lokal Bergema di UMC
“Memerangi ideologi transnasional dan meneguhkan Pancasila dilakukan bukan dengan membangun kebencian baru, melainkan dengan memperkuat dialog, literasi, dan kesadaran kebangsaan. Ini baru luar biasa,” imbuhnya.
Bagi Dr Amir, Hari Kesaktian Pancasila (1 Oktober) adalah momentum refleksi, bukan sekadar seremoni sejarah.
Kesaktian Pancasila terletak pada kemampuannya tetap hidup sebagai living values dalam perilaku masyarakat dan penyelenggaraan negara, meski terus diterpa berbagai peristiwa yang berusaha meruntuhkan NKRI.
“Indonesia ini bangsa yang sangat majemuk. Kita membutuhkan titik temu yang memungkinkan perbedaan itu tetap hidup tanpa berubah menjadi konflik. Itulah semangat pluralitas yang dijunjung tinggi oleh para pahlawan kita,” ungkapnya.
Ia pun menyerukan agar masyarakat tidak meragukan Pancasila.
“Pancasila harus terus dipahami, dikaji, dan dibuktikan relevansinya melalui praktik kehidupan masyarakat. Ukuran kekuatan Pancasila itu bukan sekadar seberapa sering kita mengucapkannya atau mengikrarkannya, melainkan seberapa jauh nilai-nilai tersebut mampu menjawab persoalan nyata bagi bangsa ini,” pungkas Direktur Amir Mahmud Center itu. (*)
