RADARCIREBON.ID – Di tengah derasnya arus ideologi transnasional dan menguatnya politik pecah belah yang menyasar ruang digital, Pancasila kembali membuktikan kesaktiannya.
Bukan sebagai jargon upacara, melainkan sebagai perekat hidup yang menjaga Indonesia tetap utuh.
Hal itu ditegaskan akademisi, sekaligus pengamat radikalisme dan terorisme, Dr Amir Mahmud MAg, saat membahas makna Hari Kesaktian Pancasila.
Baca Juga:Pengurus Orado Kabupaten Cirebon Periode 2026–2030 Resmi Dilantik, Siap Cetak Atlet BerprestasiHadangMu Competition 2026: Olahraga Tradisional dan Kearifan Lokal Bergema di UMC
Menurutnya, kesaktian Pancasila justru teruji ketika bangsa ini dihantam dua ancaman sekaligus: ekstremisme yang mengatasnamakan agama dan politik identitas, yang sengaja membelah masyarakat.
“Pancasila sangat efektif menjadi jembatan perbedaan. Dari Sabang sampai Merauke, dari perbedaan suku, ras, hingga agama, semua bisa diakomodasi,” ujar Dr Amir Mahmud di Surakarta, Selasa (6/10/2026).
Dosen Pascasarjana Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta ini menilai, masyarakat majemuk seperti Indonesia tidak bisa bertahan hanya dengan semangat toleransi semu.
Dibutuhkan nilai bersama yang mengikat agar perbedaan tidak berubah menjadi segregasi, intoleransi, hingga konflik terbuka.
“Pancasila mengajarkan bahwa perbedaan adalah kenyataan sosial yang harus dikelola melalui kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan,” tegasnya.
Dr Amir Mahmud mengingatkan, ideologi ekstrem saat ini tidak lagi bergerak di ruang gelap, melainkan sangat vulgar di media sosial.
Narasi kebencian, intoleransi, dan ajakan kekerasan dikemas dengan bahasa agama dan nasionalisme palsu. Menghadapi itu, pendekatan keamanan saja tidak akan pernah cukup.
Baca Juga:Keren! Garuda Jaya Fighters Juara Turnamen Sepak Bola FKPPI CupBukan Sekadar Agustusan! Muda-Mudi Perum GSI ‘Ambil Alih’ Kemerdekaan
“Ekstremisme dan radikalisme yang mendorong kebencian dan kekerasan perlu dihadapi bukan hanya dengan pendekatan keamanan, tetapi juga melalui pendidikan, literasi, dialog, serta penguatan ketahanan sosial,” jelasnya.
Ia membedakan dengan tegas soal keamanan baru bekerja ketika ujaran kebencian telah berubah menjadi tindakan fisik bersenjata.
Selama masih di ranah wacana dan propaganda, maka senjatanya adalah literasi moderat dan dialog kebangsaan.
“Sepanjang masih dalam bentuk ujaran kebencian atau ketidaksukaan, ini hanya bisa dihadapi dengan cara literasi dan dialog,” katanya.
Lebih jauh ia menilai, politik pecah belah bangsa adalah musuh baru yang sama berbahayanya dengan ideologi transnasional.
Keduanya sama-sama ingin menggoyahkan kesatuan dengan memanfaatkan emosi publik.
