Untuk memperkuat pesannya, Ade mengangkat keteladanan tiga ulama Majalengka, yakni KH Abdul Halim Santi Asromo, KH Abdul Chalim Leuwimunding, dan KH Abdul Halim Sabakingking.
“Ketiganya memberikan contoh pengabdian yang relevan bagi pengembangan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pembangunan daerah,” tegasnya.
Dari KH Abdul Halim Santi Asromo, Ade menyoroti perpaduan antara pendidikan dan kemandirian ekonomi. Pengembangan pendidikan berasrama serta kegiatan keterampilan, pertanian, dan peternakan menunjukkan pentingnya menyiapkan manusia yang berilmu, terampil, dan mandiri.
Baca Juga:Hasil Investigasi Dinkes usai Keracunan MBG di SPPG Kerticala 2, Diduga karena Ayam TepungData BPS dan Kemensos Tak Sinkron, Desil Bansos Jadi Sorotan di DPRD Majalengka
“Semangat ini dapat menginspirasi pendidikan yang lebih dekat dengan kebutuhan kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Sementara itu, keteladanan KH Abdul Chalim Leuwimunding tercermin dalam semangat persatuan dan pengabdian. Kontribusinya melalui pendidikan, organisasi, dan koperasi menunjukkan bahwa kemajuan umat membutuhkan kerja sama berbagai pihak.
“Bagi Majalengka, nilai tersebut menjadi pengingat untuk memperkuat hubungan antara pemerintah, ulama, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat,” katanya.
Adapun KH Abdul Halim Sabakingking memberikan teladan dalam menjaga kehidupan beragama dan kerukunan masyarakat.
Ade mengangkat pesan yang dikenal dari ulama tersebut, yakni, “Kahade ngaji, kahade tajug, sing akur jeung batur komo mun dulur.”
Pesan tersebut mengajak masyarakat untuk tekun mengaji, memakmurkan masjid atau tajug, serta menjaga kerukunan dengan sesama, terutama saudara.
Selain itu, kegiatan pengajian, kehidupan masjid, dan tradisi Ziarah Akbar Syawalan yang dipeloporinya menjadi bagian dari upaya merawat hubungan sosial dan keagamaan masyarakat.
Baca Juga:FH UGJ Sukses Gelar PKKMB 2026Atasi Macet di Kawasan Asia dan Surya, Dishub Cirebon Bakal Pasang Road Barrier Sepanjang 100 Meter
Ade menghubungkan ketiga keteladanan tersebut dengan kebutuhan Majalengka saat ini. Menurut dia, ilmu dan kemandirian diperlukan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat, sedangkan persatuan dan pengabdian menjadi landasan untuk memperkuat kerja sama.
“Spiritualitas dan kerukunan juga penting untuk menjaga kehidupan sosial agar tetap kondusif,” tambahnya.
Dalam ceramahnya, Ade menguraikan tujuh kunci keberhasilan pembangunan daerah. Ketujuh hal tersebut meliputi kepemimpinan yang amanah dan visioner, SDM berkualitas, sinergi dan kolaborasi, ekonomi produktif dan merata, pelayanan publik yang baik, persatuan dan kondusivitas masyarakat, serta pembangunan berkelanjutan.
Ia menekankan pentingnya sinergi yang memberikan ruang bagi setiap pihak untuk berkontribusi. Pemerintah dapat memperkuat kerja sama dengan ulama dan perguruan tinggi, sedangkan dunia usaha dapat membuka peluang bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta tenaga kerja lokal.
