Buya Yahya Raih Gelar Profesor Kehormatan

CIREBON, RADARCIREBON.ID- Yahya Zainul Ma’arif, Lc., M.A., Ph.D atau yang lebih akrab disapa Buya Yahya adalah pengasuh Lembaga Pengembangan Da’wah dan Pondok Pesantren Al-Bahjah Cirebon.

Buya Yahya adalah nama panggilan dari sosok ulama muda kharismatik yang memiliki nama lengkap Yahya Zainul Maarif.

Perjalanan dakwah pria kelahiran Blitar yang menghabiskan masa pendidikan dasar menengah umum dan agamanya di kota kelahirannya itu terbilang fenomenal.

Baca juga: Aksi Joki Pada Seleksi BUMN Dapat Kecaman

Setelah menimba dan memperdalam ilmu agama Islamnya di Yaman, dalam waktu yang tidak terlalu lama, perjuangan Buya Yahya menyampaikan dakwah Islam mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Tidak hanya masyarakat Cirebon tempat awal beliau berdakwah.

Kini dakwah Buya Yahya terus menyebar secara nasional bahkan internasional. Dan kini, Buya Yahya baru saja mendapat gelar profesor di Unnisula Semarang.

“Seorang ahli fikih harus mawas diri. Seorang ahli fiqih harus mengetahui batas yang tidak boleh ia lampaui. Jika sudah sampai batasanya, ia harus mempercayakan keputusan hukum kepada pakar disiplin ilmu yang lainnya,” ungkap Buya Yahya dalam sambutannya sebagai guru besar kehormatan bidang hukum Islam di Unissula (19/1/2023).

Baca juga: Lulusan SMA SMK Bisa Kerja di BUMN. Simak Tipsnya!

Oleh karenanya, lanjut Buya Yahya, ahli fikih harus mampu berkomunikasi efektif dengan para pakar disiplin ilmu yang lain begitu juga sebaliknya. Sehingga produk hukum yang dihasilkan akan menjadi solusi besar problematika umat.

Ia mencontohkan seorang ahli fiqih yang tidak tahu permasalahan bayi tabung harus duduk dan bertanya panjang lebar kepada dokter yang mengerti urusan tersebut. Dan pembahasannya pun tidak hanya seputar bayi tabung dari segi kedokteran saja, akan tetapi ada pembahasan lain yang mengiringi proses pelaksanaan bayi tabung.

Pembahasan lain yang dimaksud seperti adanya kemungkinan sperma suami yang ditukar dengan sperma orang lain. Hal itu bisa saja terjadi karena ketidakjujuran dokter atau rumah sakit yang hanya mementingkan prestasi rumah sakit sehingga tidak memerhatikan sisi syariatnya.

Komentar