Pengaruh Bulan Purnama, dan Alasan Kenapa Banjir Rob Pesisir Kota Cirebon Masih akan Terjadi

0 Komentar

CIREBON – Gelombang rob merendam sebagian kawasan pesisir Kota Cirebon dalam tiga hari terakhir. Setiap pukul 15.00 WIB, air biasanya mulai naik ke daratan dan merendam kawasan permukinan penduduk hingga jalanan.
Kondisi ini terjadi karena elevasi rendah pesisir Pantai Kota Cirebon. Namun, ada juga yang disebabkan buruknya sistem drainase. Seperti di Kampung Karang Anom, Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk.
Warga bahkan menutup akses jalan untuk menghindari terjadinya sapuan gelombang kendaraan. Genangan dengan tinggi hampir 40 cm itu, selain mengganggu aktivitas warga, juga mengotori rumah mereka. Apalagi, genangan air nyaris setiap sore hingga malam hari masuk ke kawasan permukiman.
Berdasarkan pantauan Radar Cirebon, di sekitar aliran Sungai Cipadu, perbatasan RW 07 Kesunean Utara Kelurahan Kasepuhan dengan RW 06 Cangkol Selatan, air mulai pasang pada sore hari.
PENJELASAN BMKG
Limpasan air laut yang masuk daratan/pesisir atau dikenal juga dengan banjir pesisir (“Rob”) melanda wilayah pesisir barat Sumatera, selatan Jawa hingga NTT pada akhir Mei lalu. Dampak dari “Rob” ini antara lain terganggunya transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir, nelayan, aktivitas petani garam dan perikanan darat, serta kegiatan bongkar muat di pelabuhan.
Potensi adanya fenomena Rob ini telah diidentifikasi sebelumnya oleh BMKG yang diikuti dengan dikeluarkannya peringatan dini. Potensi “Rob” masih akan berlangsung pada awal bulan Juni ini khususnya untuk Perairan Utara Jawa, hal ini dikarenakan pada awal Juni memasuki periode Bulan Purnama (full moon/spring tide) yang mengakibatkan kondisi pasang cukup tinggi di beberapa wilayah Indonesia.
Selain dari faktor astronomis, faktor fisis laut juga sangat mempengaruhi terhadap kejadian “Rob”, dimana hasil analisis dari model gelombang laut teridentifikasi tinggi gelombang di Laut Jawa mencapai 2,5 meter hingga 4,0 meter yang dibangkitkan oleh angin yang berhembus persisten dengan kecepatan hingga 25 knot (46 Km/Jam).
Ditinjau dari sisi klimatologis, anomali tinggi muka air laut pada bulan Mei dan Juni di Perairan Indonesia bernilai positif atau berada di atas Mean Sea Level (MSL), selain itu juga dengan adanya pola arus laut persisten yang diakibatkan aktivitas monsoon dingin Australia yang cukup kuat pada periode ini, ikut berperan terhadap peningkatan kenaikan tinggi muka air laut yang terjadi di Perairan Utara Jawa.

0 Komentar