Porseni NU Penting, KH Miftachul Akhyar Ungkap Latar Belakangnya

RADARCIREBON.ID –  Pekan Olahraga dan Seni Nahdlatul Ulama atau Porseni NU 2023 Tingkat Nasional tengah digelar di Solo, Jawa Tengah, 14-23 Januari 2023. Porseni NU menjadi agenda yang penting untuk dilaksanakan, tidak kalah dengan agenda kegiatan lainnya. Sebagaimana diungkapkan Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar saat Welcome Dinner Porseni NU yang dipusatkan di Pura Mangkunegaran, Surakarta, Minggu malam Tanggal 15 Januari 2023.

Menurut Kiai Miftach, Islam memandang olahraga sebagai sesuatu yang penting sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW. Pada usia sangat muda, Rasulullah sudah belajar olahraga renang. Itu dilakukan ketika Rasulullah berziarah ke makam orang tuanya yakni Abdullah  lalu belajar renang di sumur Kabilah ‘Adi di Madinah.

BACA JUGAKapolres Cirebon Kota AKBP Ariek Ternyata Keturunan Kuningan: Bisa Jaga Kampung Ibu

Saat belajar renang di sumur Kabilah ‘Adi di Madinah, usia Rasulullah kurang lebih 6 tahun. Seketika Rasulullah bisa berenang tidak tenggelam. Bahkan Rasulullah mahir berenang.

Olahraga itu penting sebagaimana pesan Rasulullah agar mengajari anak-anak untuk belajar memanah, menunggang kuda, dan berenang. Itu pesan Rasulullah berkaitan dengan olahraga, termasuk jenis olahraga lainnya.

Pemimpin Pondok Pesantren Miftachussunnah Surabaya ini juga mengutip pepatah klasik Yunani kuno yakni , di dalam tubuh yang sehat ada jiwa yang sehat. Pepatah tersebut memang selaras dalam agama Islam, bahwa akal yang sehat berada dalam tubuh yang sehat.

Manusia memiliki kekuatan rohani dan kekuatan jasmani. Untuk kekuatan jasmani bisa diperoleh dengan melakukan riyadlah jasadiyah, yakni olahraga atau olah jasad seperti dalam Porseni NU 2023.

BCA JUGALongsor di Desa Cimenga dan Garajati Kabupaten Kuningan, Jalan Desa Putus

Selain itu, dirinya juga mewanti-wanti agar perhelatan tersebut terlaksana dengan baik, yaitu dengan menjaga kejujuran dan sikap sportifitas. Persoalan persaingan adalah hal yang dibolehkan, akan tetapi harus dilakukan secara sportif.

Dalam Porseni NU ini ia mempersilakan para peserta untuk bersaing, namun tetap dengan menjadi sportivitas. Ia mewanti wanti jangan melakukan perbuatan yang justru akan mencederai hanya karena ingin mendapat juara. Jadikalan Porseni NU ini sebagai percontohan kepada masyarakat sebagai ajang yang sportif dan tidak ribut. (*)

Komentar