Sentra Kerajinan Gerabah Ikut Terusik Pandemi

gerabah-panjunan
Produk gerabah yang dijual di Panjunan. Covid-19, membuat pusat sentra kerajinan gerabah di Desa Sitiwinangun ikut kena imbas. Foto: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

Mayoritas perajin gerabah di Desa Sitiwinangun usia senja. Khawatir “habis” kalau tidak ada yang meneruskan. Milenial didorong ambil peran. Melalui promosi desa wisata yang terus digencarkan. Alhamdulillah. Walau pandemi sempat membuat gelagapan.

ADE GUSTIANA, Cirebon
BANYAK kunjungan yang telah terjadwal. Terpaksa batal. Mulai dari kunjungan universitas hingga anak sekolah. Termasuk rencana pameran di Jakarta. Diundur tahun depan. Padahal desa di Kecamatan Jamblang ini satu-satunya perwakilan dari Cirebon.
Jumlah kunjungan anak sekolah itu lumayan banyak. Satu kali rombongan yang datang bisa sampai 100 orang. Mereka diajak berkeliling melihat sentra kerajinan secara langsung. Sebelum itu, disambut lebih dulu di balai desa. Dijelaskan seputar sejarah singkat. Agar tak bingung ketika sudah mulai berkeliling.
“Kami juga banyak menjalin kerja sama dengan perguruan tinggi,” kata Kepala Desa Sitiwinangun Ratija Brata Manggala kepada Radar Cirebon, kemarin.
Tidak hanya dengan perguruan tinggi lokal. Seperti Universitas Swadaya Gunung Jati (UGJ) dan Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC). Namun juga Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Mahasiswa di sana juga sering melakukan penelitian. Seputar gerabah. Juga sejarah di desa itu. Bahkan hingga dijadikan skripsi oleh mahasiswa ITB. Salah satu yang ditonjolkan adalah dua peninggalan bersejarah. Yaitu masjid dan Alquran usia ratusan tahun.
Gerabah di Sitiwinangun salah satu yang tertua di nusantara. Ada 27 motif/ukiran. Mulai dari rumbing hingga bulan sabit. Mawar hingga godong semanggen. Lalu siapa yang tak kenal dengan motif mega mendung? Karena itu juga yang menjadi andalan. Beberapa asal-usul menjadikan pembeda gerabah di desa ini dibanding tempat lain. Misalnya kaya akan sejarah, tadi.
Di tahun 1970-an, kata Ratija, nyaris seluruh rumah di Blok Caplek dan Bagusan bekerja sebagai perajin gerabah rumahan. Kurang lebih jumlahnya seribu.
“Gerabah masih satu-satunya kerajinan yang diutamakan. Belum ada alternatif lain,” katanya.
Maksudnya alternatif benda yang bisa digantikan fungsinya dengan gerabah. Misalnya pot bunga. Dulu, semua nyaris terbuat dari gerabah. Seiring bertambahnya tahun, mulai muncul saingan. Yakni pot yang terbuat dari plastik. Contoh lain adalah gentong untuk memasak empal. Semakin modern, mulai tergantikan dengan yang berbahan dasar alumunium dan sejenisnya. “Hanya yang khusus pecinta gerabah yang bertahan,” ungkapnya.

0 Komentar