Ujian Nasional

0 Komentar

Maszlee itu. Dari partainya sendiri, Pribumi Bersatu. Maszlee lulusan
University of Al Bayt, Jordania. Gelar doktornya dari Durham University,
Inggris.Latar belakang seperti itu
membuat Dr Maszlee mampu berbahasa Melayu, Inggris, Arab, dan Mandarin.

Program kementeriannya pun
difokuskan untuk membuat Bangsa Malaysia mampu menjadi produsen –bukan hanya
konsumen.Tapi yang membuat heboh
adalah satu ini: ia mengharuskan semua sekolah mengajarkan ‘khat’ –menulis
Jawi. Yakni tulisan Arab tapi bunyinya Melayu. Seperti yang juga dipakai di
Riau. Atau di pesantren-pesantren di Jawa zaman dulu: tulisannya Arab tapi
bunyinya Jawa.

Yang membuat penolakan
sangat luas adalah: kewajiban itu termasuk untuk sekolah berbahasa Tionghoa dan
berbahasa Tamil.Di lain pihak Dr
Maszlee tidak segera membuat keputusan soal persamaan ijazah UEC.Pun setelah kabinet berumur 1,5 tahun.
Akibatnya DAP terjepit oleh konstituennya. Yang terus menuntut ‘mana janji
untuk persamaan ijazah itu’.

Baca Juga:Banyak Perempuan Jadi Korban Aksi Terorisme, Fatayat Kabupaten Cirebon Garap Isu RadikalismeIni Alasan BIJB dan Pelabuhan Indramayu Jadi Titik Transit 69 WNI ABK Diamond Princess

Pimpinan DAP meneruskan
desakan itu ke pimpinan koalisi. Mahathir pun berkali-kali membahas soal ijazah
itu dalam sidang kabinet.Arahan
Mahathir pun jelas: janji kampanye itu harus segera direalisasikan.Tapi Dr Maszlee baru sebatas membentuk
tim. Padahal Wakil Menteri Pendidikannya sudah dijabat seorang tokoh pendidikan
Tionghoa.

Lama-lama Mahathir tidak
tahan. Ia menulis surat panjang. Tujuh halaman. Kepadanya: Dr Maszlee. Inti
dari surat itu: agar Maszlee mengundurkan diri saja.Maszlee pun mundur. Ia hanya 20 bulan menjadi Mendiknas. Mahathir
pun kembali merangkap sebagai Mendiknas.Tidak sampai dua bulan kemudian Mahathir sendiri mengundurkan diri sebagai
perdana menteri.

Sejak perintah mundur itu
diterima Maszlee pertikaian di internal Partai Pribumi Bersatu memuncak. Ketua
umumnya, Dr Muhyiddin Yasin, kian tidak kerasan di Koalisi Pakatan Harapan.

Muhyiddin pun mulai
menyusun koalisi ‘pintu belakang’: Pakatan Nasional. Isinya: sebagian anggota
DPR dari Partai Pribumi Bersatu, 11 anggota DPR dari Partai Keadilan Rakyat,
anggota DPR dari Partai Islam Pas, Partai Serawak dan semua anggota DPR dari
UMNO –yang kalah telak di Pemilu 2018.

Ada 11 anak buah Anwar
Ibrahim yang membelot ke Pakatan Nasional. Termasuk Azmin Ali, wakil Anwar di

0 Komentar