Sementara bagi debitur bank, tetap dapat melakukan pembayaran cicilan atau pelunasan pinjaman di kantor Perumda BPR Bank Cirebon dengan menghubungi Tim Likuidasi LPS.
NASABAH DATANGI KANTOR BANK CIREBON
Sementara itu, pagar besi biru Perumda BPR Bank Cirebon tak pernah seramai ini. Sehari setelah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi mencabut izin usaha bank milik daerah itu, Selasa (10/2/2026), puluhan bahkan ratusan nasabah datang silih berganti. Bukan untuk menabung. Bukan pula menarik bunga deposito. Mereka datang membawa satu perasaan yang sama: cemas.
Sejak pagi, antrean mengular di bawah selasar bangunan tua yang atapnya tampak mengelupas. Potongan plafon terlihat bolong di beberapa titik, memperlihatkan rangka kayu yang lapuk.
Baca Juga:Bank Cirebon Tamat! Kepala OJK: Tak Bisa DiselamatkanKredit 400 ASN di Bank Cirebon Tidak Lancar, Tetap Harus Bayar
Di balik pagar utama menuju lantai dua –ruang pelayanan inti Bank Cirebon– dua orang petugas keamanan berdiri berjaga. Wajah mereka tegang namun tetap berusaha tenang, mengatur arus warga yang terus berdatangan.
Di dekat mereka, dua petugas perempuan melayani pertanyaan nasabah satu per satu, menjelaskan hal yang sama berulang-ulang: bank ditutup, simpanan dijamin, ikuti prosedur.
Kerumunan itu beragam. Ibu-ibu berkerudung dengan map plastik berisi buku tabungan. Bapak-bapak paruh baya yang sesekali menelpon anggota keluarga. Ada yang menggendong anak, ada pula yang sibuk memotret pengumuman dengan ponsel. Semua mata tertuju ke satu titik: poster oranye yang ditempel di dinding dekat akses utama.
Poster itu mencolok. Judulnya besar: Proses Klaim Simpanan Nasabah. Di sebelahnya, poster lain menjelaskan alur pengecekan status simpanan melalui situs Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Diagram panah, alamat situs, hingga kode QR terpampang jelas. Beberapa nasabah tampak mendekat, memiringkan badan agar bisa membaca. Ada yang langsung memotret, ada yang bertanya ulang ke petugas, seolah memastikan bahwa informasi di poster itu benar-benar menjadi jalan keluar.
Suasana di depan kantor Bank Cirebon kemarin bukan sekadar antrean. Lebih mirip ruang tunggu kecemasan kolektif. Eka, warga Perumnas Kota Cirebon, berdiri sambil menggenggam ponselnya. Sudah sekitar 10 tahun ia menjadi nasabah Bank Cirebon. Menabung sedikit-sedikit tapi rutin. “Kadang 200 ribu, kadang 300 ribu. Kalau sudah besar biasanya saya depositokan,” ujarnya kepada Radar Cirebon kemarin.
