RADARCIREBON.ID – Lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Gunung Jati, Kota Cirebon, terlihat lebih padat dalam satu hingga dua pekan terakhir. Blangkar yang biasanya berjajar di depan lobi untuk melayani pasien dari ambulans kini hampir seluruhnya digunakan.
Peningkatan kunjungan terutama terjadi pada pasien anak. Pada saat yang sama, jumlah pasien dewasa dengan berbagai keluhan penyakit dalam juga ikut bertambah.
Kabid Keperawatan RSUD Gunung Jati Cirebon Yogi Yana membenarkan adanya peningkatan tersebut. Menurut dia, tren itu terlihat dalam satu sampai dua pekan terakhir. “Memang jumlah kunjungan pasien di IGD mengalami peningkatan, khususnya pasien anak, ditambah pasien dewasa dengan penyakit dalam,” kata Yogi.
Baca Juga:Awal Oktober Buka-bukaan PDAM, DPRD Siapkan RDP, Direksi Nyatakan Siap HadirIGIC 2026 Pilih Menag sebagai Presiden IAMI
Pada kelompok pasien anak, keluhan yang paling banyak ditemukan masih berupa batuk, pilek, dan demam atau hipertermi. Peningkatan kunjungan juga dipengaruhi bertambahnya pasien rujukan dari sejumlah rumah sakit di sekitar Cirebon.
Sebagian pasien anak dirujuk karena fasilitas pelayanan anak di rumah sakit pengirim mengalami keterbatasan kapasitas. Kondisi itu membuat RSUD Gunung Jati menjadi salah satu tujuan rujukan ketika kebutuhan perawatan anak meningkat. “Batuk, pilek, panas, itu masih mendominasi,” jelas Yogi.
Sementara pada pasien dewasa, keluhan yang ditangani lebih beragam. Di antaranya hipertensi, demam, serta berbagai penyakit dalam lainnya.
Setiap pasien yang datang ke IGD terlebih dahulu menjalani penanganan dan observasi. Masa observasi berlangsung sekitar dua hingga empat jam.
Setelah itu, dokter menentukan apakah pasien cukup menjalani perawatan dan diperbolehkan pulang atau harus melanjutkan perawatan melalui rawat inap. Untuk pasien rujukan, sebagian besar telah memiliki indikasi untuk menjalani perawatan lebih lanjut ketika tiba di RSUD Gunung Jati.
Peningkatan kunjungan tersebut mulai terlihat pada tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR), terutama di ruang perawatan anak. BOR pasien anak yang sebelumnya berada di kisaran 60 hingga 65 persen kini meningkat menjadi rata-rata 70 sampai 80 persen.
Ruang Kemuning, yang digunakan untuk perawatan bayi, mencatat tingkat keterisian lebih tinggi. BOR di ruang tersebut telah mencapai sekitar 91 persen. Meski angka keterisian meningkat, rumah sakit menyatakan kapasitas tempat tidur secara keseluruhan masih mencukupi. Manajemen juga menambah area perawatan di lantai dua gedung IGD sebagai ruang tambahan ketika terjadi penumpukan pasien.
