Kemudian, sebagai penghujung seluruh rangkaian kemeriahan, pada 10 Oktober atau malam puncak Unjungan Buyut Kebulen akan diisi dengan pergelaran budaya wayang kulit. Pertunjukan tersebut menjadi simpul tradisi dalam rangkaian Unjungan Buyut Kebulen sekaligus menjadi bagian penting dari pelestarian budaya yang telah melekat di tengah masyarakat.
“Kami mengundang seluruh masyarakat untuk hadir dan meramaikan rangkaian acara. Semoga seluruh kegiatan berjalan lancar, aman, dan membawa keberkahan bagi seluruh warga Desa Kebulen dan sekitarnya,” pungkas Tarkani.
Sementara itu, salah satu tokoh pemuda Kebulen, Nuryanto, mengatakan bahwa tradisi Unjungan Buyut Kebulen sudah melekat kuat dalam kehidupan masyarakat desa. Menurutnya, waktu pelaksanaan tradisi tersebut juga tetap dipertahankan pada 10 Oktober setiap tahunnya.
Baca Juga:Semburan Sudah Hilang, Sumur BDA-004 Pertamina di Pagedangan Berhasil DitanganiAsrama Ponpes Terbakar di Ciwaringin
“Jadi bukan sebagai pelestarian tradisi dan budaya leluhur desa saja, ini punya makna yang penting untuk memperkuat persaudaraan warga dan menjaga keharmonisan antara warga,” jelasnya. (oni)
