RADARCIREBON.ID – Unit usaha peternakan bebek petelur Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) Jagaraksa, Desa Karangmuncang, Kecamatan Cigandamekar, Kabupaten Kuningan, menghadapi tekanan usaha akibat kenaikan harga pakan yang tidak diimbangi dengan harga jual telur.
Sejak awal hingga Oktober 2026, harga pakan yang digunakan peternak mengalami kenaikan dari sekitar Rp345.000 menjadi Rp420.000 per sak berisi 50 kilogram. Pada saat yang sama, harga telur bebek justru mengalami penurunan, sehingga biaya produksi semakin sulit ditutupi dari hasil penjualan.
Direktur Bumdes Jagaraksa, Hermawan, mengatakan kondisi tersebut membuat usaha peternakan bebek petelur semakin berat dipertahankan. Bahkan, pihaknya terpaksa mengurangi populasi ternak untuk menekan kerugian yang terus membebani operasional usaha.
Baca Juga:Bupati Eman Diangkat sebagai Dewan Kehormatan Makom AlbabPKB Kuningan Pasang Target Minimal 10 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
“Sekarang peternak bebek petelur sedang menjerit karena harga pakan sangat tinggi, sementara harga telur sangat murah. Kondisi ini bukan hanya terjadi di Kuningan, tetapi juga dirasakan peternak di daerah lain,” kata Hermawan saat diwawancarai, Senin (12/10/2026).
Tekanan biaya produksi terlihat dari perubahan jumlah ternak yang dikelola Bumdes Jagaraksa. Pada awalnya, unit usaha tersebut memiliki 700 ekor bebek petelur. Namun, untuk mengurangi beban biaya pakan dan menekan kerugian, sebanyak 300 ekor telah dikeluarkan dari populasi ternak.
Kini, Bumdes Jagaraksa hanya mempertahankan sekitar 400 ekor bebek petelur. Pengurangan populasi itu menjadi salah satu langkah yang ditempuh agar usaha tetap berjalan di tengah tingginya biaya operasional.
Namun, persoalan tidak berhenti pada harga pakan. Produktivitas telur juga mengalami penurunan signifikan. Hermawan menyebut, ketika masih mengelola 700 ekor bebek, produksi telur sempat mencapai sekitar 550 butir per hari. Saat ini, produksi hanya berkisar 170 butir per hari.
Penurunan tersebut membuat pendapatan dari penjualan telur semakin terbatas, sedangkan kebutuhan pakan tetap menjadi pengeluaran utama yang harus dipenuhi setiap hari.
“Awalnya produksi bisa mencapai 550 butir per hari. Sekarang tinggal sekitar 170 butir. Penurunannya sangat drastis,” ujarnya.Persoalan lainnya, peternak tidak bisa sembarangan mengganti jenis pakan demi mendapatkan harga yang lebih murah.
Menurut Hermawan, perubahan pakan, khususnya konsentrat, berisiko memengaruhi produktivitas telur bebek.
