Karena itu, alternatif penghematan melalui penggantian pakan belum berani dilakukan. Di tengah situasi tersebut, pengurangan populasi ternak menjadi pilihan yang dinilai paling memungkinkan untuk menekan biaya produksi.
Tekanan usaha semakin terasa ketika harga jual telur bebek ikut melemah. Hermawan menyebut, pada awal tahun 2026, harga telur bebek yang diterima peternak masih mencapai sekitar Rp2.500 per butir. Namun, pada Oktober ini, harganya turun menjadi sekitar Rp2.000 per butir.
Selisih harga tersebut menjadi beban tambahan karena terjadi bersamaan dengan kenaikan harga pakan. Pendapatan yang diperoleh dari penjualan telur semakin sulit menutup kebutuhan operasional, termasuk pembelian pakan dan pembayaran tenaga kerja.
Baca Juga:Bupati Eman Diangkat sebagai Dewan Kehormatan Makom AlbabPKB Kuningan Pasang Target Minimal 10 Kursi DPRD pada Pemilu 2029
Bahkan, jumlah pekerja yang membantu kegiatan peternakan ikut dikurangi. Jika pada awal usaha terdapat dua karyawan, kini Bumdes Jagaraksa hanya mempekerjakan satu orang.
Hermawan mengungkapkan, kondisi keuangan usaha saat ini tidak lagi memungkinkan pihaknya mengandalkan keuntungan untuk mengembangkan peternakan. Sebaliknya, pengelola harus terus memutar strategi agar kegiatan usaha tetap bertahan.
“Sekarang bukan keuntungan yang kami dapat, tetapi justru kerugian. Untuk biaya pekerja saja, kondisinya sudah minus. Kami harus terus memikirkan bagaimana caranya bertahan,” tuturnya.
Situasi tersebut memperlihatkan tantangan yang dihadapi unit usaha peternakan Bumdes ketika biaya produksi meningkat, sedangkan harga jual hasil ternak bergerak ke arah yang berlawanan.
Bagi Bumdes Jagaraksa, pengurangan populasi dan tenaga kerja merupakan langkah bertahan. Namun, langkah efisiensi itu tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mendasar, yakni ketidakseimbangan antara biaya pakan dan pendapatan dari penjualan telur.
Hermawan berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi peternak, khususnya pelaku usaha peternakan rakyat yang mengalami tekanan biaya produksi.Menurut dia, ada dua persoalan utama yang perlu mendapatkan perhatian, yakni harga pakan yang lebih terjangkau dan harga jual telur yang memadai bagi peternak.
Ia menilai, apabila harga pakan terus meningkat sementara harga telur tidak mengalami perbaikan, keberlangsungan usaha peternakan akan semakin terancam. Kondisi tersebut juga berpotensi membuat lebih banyak peternak menghentikan usahanya.
Baca Juga:Raih 287 Suara, Hilmi-Firly Resmi Menjadi Ketua dan Wakil Presma Unisa Kuningan Pemda Kuningan Menyoroti Penonaktifan 67.254 Peserta Bantuan Iuran JKN
“Harapan kami, pemerintah memiliki langkah untuk menurunkan harga pakan agar peternak, khususnya di Kuningan dan umumnya di Indonesia, bisa bertahan. Kalau harga pakan terus melonjak, sementara harga telur masih rendah, kami tidak akan mampu bertahan selamanya,” kata Hermawan.
