Menurut Riza, keberhasilan program dapat dilihat dari sejumlah alumni yang langsung merintis usaha setelah mengikuti pelatihan.
Di Kota Banjar, misalnya, alumni pelatihan tata boga dan barista berkolaborasi membuka usaha yang mampu menjual 20-50 gelas minuman per hari. Sementara itu, di Kabupaten Bekasi, peserta mulai merintis usaha kuliner dengan harga produk Rp10 ribu setelah pelatihan berakhir.
Di Cirebon, antusiasme peserta juga dinilai tinggi. Riza menyebutkan, sejumlah alumni bahkan langsung memulai usaha setelah menyelesaikan pelatihan.
Baca Juga:Harga Telur Bebek Turun tapi Harga Pakan Melonjak, Bumdes Jagaraksa Kuningan Minta Pemerintah Turun TanganBupati Eman Diangkat sebagai Dewan Kehormatan Makom Albab
Ia mengapresiasi dukungan pemerintah daerah, George Edwin Sugiharto selaku anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, serta sejumlah pihak terkait dalam pelaksanaan program MTU. Dukungan dan pendampingan berkelanjutan diharapkan membantu alumni mengembangkan usaha sekaligus menggerakkan perekonomian daerah.
Ketua panitia, Muhammad Wahyu Saputra, menjelaskan, pelatihan tersebut mengacu pada Rencana Pembangunan Daerah (RPD) Jawa Barat 2024–2026, khususnya terkait penanganan tingkat pengangguran terbuka (TPT), serta Rencana Strategis (Renstra) Disnakertrans Jawa Barat.
Program ini bertujuan membekali pencari kerja dengan pengetahuan dan keterampilan praktis di bidang tata boga dan barista agar mampu bersaing di dunia kerja maupun merintis usaha mandiri.
“Diharapkan para peserta tidak hanya siap secara keterampilan, tetapi juga mampu mandiri secara ekonomi dan memiliki motivasi kuat untuk menjadi wirausaha baru,” katanya.
Wahyu menyebutkan, sebanyak 40 peserta mengikuti pelatihan tersebut. Mereka terbagi dalam dua kelompok, masing-masing 20 orang untuk bidang tata boga dan 20 orang untuk bidang barista.
Pelatihan berlangsung selama lima hari, 12–16 Oktober 2026, dengan total 42 jam pelajaran. Metode pembelajaran menggunakan pendekatan andragogi atau pembelajaran orang dewasa yang menekankan partisipasi aktif peserta.
Instruktur berasal dari Disnakertrans Jawa Barat, Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Hanan, serta Pusat Pengembangan Pelatihan Bandung Barat. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan kompetensi peserta agar siap terjun ke dunia usaha, khususnya sektor kuliner dan perkopian.
Baca Juga:PKB Kuningan Pasang Target Minimal 10 Kursi DPRD pada Pemilu 2029Raih 287 Suara, Hilmi-Firly Resmi Menjadi Ketua dan Wakil Presma Unisa Kuningan
Sementara itu, Kepala Disnaker Kota Cirebon, Maruf Nuryasa, AP., mengatakan, TPT di Kota Cirebon tercatat sebesar 6,41 persen, lebih tinggi dibandingkan rata-rata Jawa Barat. Angka tersebut setara dengan hampir 12.000 warga yang belum bekerja.
