RADARCIREBON.ID- Muslimah tak boleh menjadi sasaran kepentingan politik. Muslimah harus mampu berperan aktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Mereka harus kritis dan tidak mudah dimanfaatkan kelompok tertentu.
Semangat itulah yang diusung Forum Silaturahmi Ummi Muslimah Indonesia (Fahmi Ummi). Organisasi ini ingin mendorong lahirnya Muslimah-muslimah yang lebih cerdas, mandiri, kritis, dan berdaya, bukan sekadar menjadi objek dalam aktivitas politik maupun sosial.
Fahmi Ummi juga berupaya memperluas peran perempuan melalui berbagai program pemberdayaan. Gerakannya tidak berhenti pada dakwah keagamaan, tetapi mencakup penguatan pendidikan, ekonomi, hukum, politik, serta hubungan kelembagaan dan organisasi.
Baca Juga:Edo Ditantang Buka Bukti, SRCM: Jangan Cuma Ngaku Mundur, Buka SuratnyaKepala SPPG: Kami Minta Maaf dan Siap Tanggung Jawab hingga Korban Sembuh
Plt Ketua Umum PP Fahmi Ummi, Hj Maya Suhasni Siregar SE menegaskan bahwa Fahmi Ummi merupakan organisasi independen yang tak berafiliasi dengan partai politik tertentu. Keanggotaannya terbuka bagi muslimah dari berbagai organisasi kemasyarakatan. “Gerakan organisasi ini tidak hanya berfokus pada dakwah,” ujar Maya usai ramah tamah pengurus daerah dan pengurus cabang Ciayumajakuning, Kamis (22/10/2026).
Menurutnya, Fahmi Ummi menjalankan program melalui lima bidang, yakni pendidikan, ekonomi, hukum, politik, serta hubungan kelembagaan dan organisasi. Melalui bidang-bidang tersebut, Fahmi Ummi berupaya meningkatkan pengetahuan dan kemampuan muslimah agar dapat berperan lebih luas dalam keluarga maupun masyarakat.
Untuk jangka pendek, organisasi ini akan memperkuat sosialisasi dan edukasi. “Langkah tersebut ditujukan kepada pengurus maupun masyarakat agar semakin memahami tujuan dan program Fahmi Ummi,” terangnya.
Kata Maya, selama ini perempuan kerap menjadi sasaran kepentingan pihak tertentu. Namun, keterlibatan mereka belum tentu diiringi pemahaman politik yang memadai. “Umi-umi suka dimanfaatkan oleh beberapa kelompok tertentu ataupun orang tertentu untuk kepentingannya dengan memberikan misalnya uang ataupun jilbab. Itu hanya seperti itu, habis itu ditinggalkan,” terangnya.
Menurut Maya, kondisi tersebut perlu direspons melalui pendidikan politik yang baik. Perempuan harus memiliki pemahaman agar mampu menilai kepentingan politik secara lebih kritis. Fahmi Ummi, lanjut Maya, ingin mendorong muslimah agar lebih peduli terhadap persoalan politik. Perempuan tidak cukup hanya menjadi peserta atau sasaran dalam kegiatan politik, tetapi juga perlu memahami proses dan kepentingan di baliknya.
