Di wilayah perkotaan, kondisi sungai dan drainase menjadi faktor yang tidak kalah penting. Sampah yang menumpuk, sedimentasi, serta penyempitan saluran dapat menghambat aliran air ketika hujan turun. Pemerintah Kota Cirebon telah merencanakan pemasangan trash barrier dan pembentukan Satuan Tugas Sungai pada Juli 2026 untuk menangani persoalan sampah sungai sekaligus mengantisipasi banjir. Langkah tersebut merupakan upaya yang patut didukung. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada pemeliharaan fasilitas, pengawasan yang konsisten, dan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah.
Penanganan sungai juga perlu berjalan seiring dengan perlindungan kawasan resapan air. Ruang terbuka hijau, vegetasi, dan lahan yang memiliki kemampuan menyerap air berperan dalam mengurangi limpasan permukaan. Ketika kawasan tersebut semakin berkurang akibat perubahan penggunaan lahan, air hujan akan lebih cepat mengalir menuju saluran dan sungai. Oleh karena itu, pembangunan di Cirebon perlu mempertimbangkan daya dukung lingkungan. Perencanaan wilayah harus mampu menyeimbangkan kebutuhan permukiman dan infrastruktur dengan keberadaan ruang ekologis yang berfungsi menjaga tata air.
Berbagai faktor tersebut menegaskan bahwa mitigasi banjir harus dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah daerah perlu memastikan drainase dan sungai berfungsi optimal melalui pemeliharaan berkala serta penanganan berbasis kajian teknis. Pemetaan kawasan rawan banjir, sistem peringatan dini, dan jalur evakuasi juga perlu diperkuat. Mengingat keterhubungan wilayah hulu dan hilir, koordinasi antara Pemerintah Kota Cirebon, Pemerintah Kabupaten Cirebon, Kabupaten Kuningan, BPBD, dan instansi pengelola sumber daya air menjadi bagian penting dari strategi pengurangan risiko bencana.
Baca Juga:Bupati Kuningan Tugaskan 50 Kepala Sekolah, Soroti Literasi dan Kesejahteraan GuruCSR Rp1,6 Miliar PT New Hope Bangun Jalan 900 Meter di Wanasaraya Kuningan
Upaya pemerintah tersebut akan lebih efektif apabila didukung oleh partisipasi masyarakat. Kebiasaan membuang sampah ke sungai atau membiarkan saluran air tersumbat dapat memperburuk kondisi lingkungan, terutama ketika hujan deras berlangsung. Karena itu, edukasi kebencanaan dan kepedulian ekologis perlu dibangun melalui sekolah, komunitas, lembaga keagamaan, serta lingkungan permukiman. Masyarakat juga perlu dilibatkan dalam pemantauan kondisi saluran, menjaga kebersihan sungai, dan melaporkan potensi ancaman banjir di wilayahnya.
Memasuki musim hujan, Cirebon memiliki kesempatan untuk mengevaluasi kembali pendekatan penanganan banjir. Respons darurat tetap diperlukan, tetapi upaya pencegahan harus memperoleh perhatian yang lebih besar. Pemulihan kawasan resapan, pengelolaan sungai, perbaikan drainase, dan pengendalian tata ruang perlu menjadi agenda yang berkesinambungan. Dengan pendekatan tersebut, penanganan banjir dapat bergerak dari sekadar mengatasi genangan menuju upaya mengurangi kerentanan wilayah.
