Banjir Cirebon Saat Hujan Datang Persoalan Lama Kembali

Zakiyyah, Mahasiswa Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University
Zakiyyah, Mahasiswa Pascasarjana Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan IPB University: Upaya pemerintah menanggulangi akan lebih efektif apabila didukung oleh partisipasi masyarakat
0 Komentar

ARTIKEL, RADARCIREBON.ID – Memasuki November, masyarakat Cirebon kembali dihadapkan pada satu persoalan yang selalu mengemuka setiap musim hujan: banjir. Hujan yang seharusnya menjadi bagian dari siklus alam kerap menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang tinggal di kawasan rawan genangan. Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Prakiraan musim hujan 2026/2027 menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Cirebon mulai memasuki musim hujan secara bertahap pada November hingga Desember. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan perlu dibangun sebelum hujan berintensitas tinggi benar-benar terjadi.

Pengalaman banjir pada awal 2026 menunjukkan besarnya risiko yang dihadapi masyarakat. Pada 5 Januari, hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi menyebabkan sejumlah sungai di Kota Cirebon meluap dan merendam 4 kelurahan. Di beberapa lokasi, ketinggian air mencapai 1,5 meter. BNPB juga melaporkan bahwa ribuan warga terdampak dan sebagian harus mengungsi. Kejadian serupa kembali terjadi pada Februari dan Maret. Rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa banjir masih menjadi ancaman yang berulang, sehingga penanganannya perlu dilakukan secara berkelanjutan.

Banjir yang berulang sering kali dipahami sebagai akibat curah hujan yang tinggi. Padahal, hujan merupakan salah satu faktor pemicu, sedangkan dampaknya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan dan kemampuan wilayah dalam menampung serta mengalirkan air. Ketika saluran drainase tidak berfungsi optimal, sungai mengalami pendangkalan, atau kawasan resapan semakin berkurang, air hujan lebih mudah berubah menjadi limpasan yang menggenangi permukiman. Dengan demikian, persoalan banjir perlu dilihat melalui hubungan antara kondisi alam dan tata kelola lingkungan.

Baca Juga:Bupati Kuningan Tugaskan 50 Kepala Sekolah, Soroti Literasi dan Kesejahteraan GuruCSR Rp1,6 Miliar PT New Hope Bangun Jalan 900 Meter di Wanasaraya Kuningan

Hubungan tersebut semakin penting bagi Cirebon karena sistem aliran airnya berkaitan dengan wilayah hulu dan hilir. Kawasan hulu di Kabupaten Kuningan berperan dalam mengatur aliran air yang kemudian bergerak menuju wilayah Cirebon. Ketika hujan deras terjadi di kawasan hulu, peningkatan debit air dapat memengaruhi sungai-sungai di wilayah hilir. BPBD Kabupaten Cirebon pada akhir Oktober 2026 turut mengingatkan potensi bencana hidrometeorologi akibat hujan intensitas tinggi. Situasi ini memperlihatkan bahwa banjir perlu ditangani melalui koordinasi lintas wilayah, bukan hanya melalui kebijakan yang terbatas pada administrasi kota atau kabupaten.

0 Komentar