SMPN 1 Luragung Terdampak Angin Kencang, Atap dan Plafon Rusak 

Kondisi atap dan plafon ruang kelas SMPN 1 Luragung,
Kondisi atap dan plafon ruang kelas SMPN 1 Luragung, Kabupaten Kuningan, mengalami kerusakan akibat angin kencang yang menyertai hujan deras.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Cuaca ekstrem yang disertai angin kencang merusak sejumlah bangunan di lingkungan SMPN 1 Luragung, Kabupaten Kuningan. Atap dan plafon beberapa ruang kelas rusak, bahkan sebagian ambruk hingga air hujan masuk dan menggenangi ruangan. Kerusakan juga terjadi pada fasilitas pendukung sekolah.

Berdasarkan hasil asesmen Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kuningan, sedikitnya 13 ruang kelas dan satu ruang laboratorium terdampak. Dua ruang kelas, yakni kelas 8.1 dan 7.1, mengalami kerusakan paling parah pada bagian atap dan plafon.

Kepala Pelaksana BPBD Kuningan Indra Bayu Permana mengatakan, kerusakan bangunan sekolah terutama terjadi pada bagian atap dan plafon. Selain mengalami kebocoran, sejumlah plafon dilaporkan ambruk sehingga air hujan masuk dan menggenangi ruang kelas.

Baca Juga:Bulan Dana PMI Kuningan Himpun Rp641,6 Juta, Baru 71,2 PersenAngin Kencang Menerjang Tiga Desa di Kecamatan Luragung dan Cidahu, 26 Rumah Rusak

“Pada dua ruang kelas, yakni kelas 8.1 dan 7.1, kerusakan bagian atap tergolong berat. Masing-masing memiliki ukuran bangunan sekitar 9 x 8 meter,” kata Indra Bayu Permana, Selasa (3/11).

Sementara itu, lanjutnya, ruang kelas 7.2 hingga 7.11 mengalami kerusakan pada bagian atap. Adapun ruang kelas 8.2 dan 8.3 masuk kategori kerusakan sedang. Kerusakan juga terjadi pada satu ruang laboratorium berukuran 8 x 9 meter, terutama pada bagian genteng.

“Dampak angin kencang turut menyasar fasilitas pendukung sekolah. Sebuah ranting pohon sepanjang kurang lebih 15 meter dilaporkan patah dan menimpa kantin sekolah berukuran 4 x 3 meter,” ucapnya.

Meski kerusakan bangunan cukup signifikan, BPBD memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Menindaklanjuti kejadian itu, pihak sekolah langsung berkoordinasi dengan pemerintah desa, kecamatan, TNI, Polri, serta BPBD Kuningan.

BPBD juga telah menerjunkan tim untuk melakukan asesmen guna mengidentifikasi tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganan lanjutan. Proses pembersihan material bangunan yang berserakan dilakukan pihak sekolah dengan melibatkan siswa, masyarakat sekitar, dan pemerintah desa.

Sejumlah ruang kelas yang terdampak mulai dibersihkan dari sisa-sisa material atap dan plafon yang ambruk. Namun, kebutuhan mendesak yang harus segera ditangani adalah perbaikan bangunan sekolah, terutama bagian atap dan plafon yang mengalami kerusakan.

“Langkah selanjutnya akan dikoordinasikan bersama pihak sekolah, Dinas Pendidikan, dan instansi terkait untuk menentukan penanganan serta pemulihan fasilitas pendidikan tersebut,” ungkapnya.

0 Komentar