Tragedi Kalianyar: Tuntutan Hukuman Mati, Izin Belanja ke Cirebon, Tak Disangka Jadi Perpisahan Terakhir

Perampokan dan Pembunuhan
DOAKAN ISTRI: Dudung Badrun (tengah) memanjatkan doa di makam sang istri, Jumat (6/11/2026). Kanan, Maemunah mengaku sempat mendengar teriakan pada hari kejadian, tapi tak mengira teriakan itu dari peristiwa perampokan dan pembunuhan. Foto: Anang Syahroni/Radar Indramayu
0 Komentar

“Almarhumah itu jika ada apa-apa itu pasti ngomong. Pada pagi itu tidak ada omongan akan ada orang untuk betulkan tiang penangkal petir. Lalu, apakah benar FSS hanya sendirian sedangkan NW tidak terlibat saat terjadi pembunuhan di dalam rumah? Lalu apakah ada pelaku lainnya? Itu semua perlu diselidiki lebih dalam oleh polisi,” jelasnya.

Sebagai suami korban, Dudung berharap para tersangka mendapat hukuman setimpal sesuai dengan apa yang telah diperbuat. Ia mengatakan pasal yang harus dikenakan adalah pasal kumulatif atau berlapis, yakni mulai dari perampokan, pembunuhan berencana, sampai pembakaran.

“Ya inginnya bisa segera dihukum mati sesuai perbuatannya. Segera dieksekusi supaya ini jadi pembelajaran agar tidak ada lagi insiden seperti ini. Yang jelas kami pihak keluarga akan kawal kasus ini sampai tuntas,” tegas Dudung.

Baca Juga:Jokowi Irit Bicara soal Listyo, Jadi Saksi Sidang dengan Terdakwa Roy SuryoPesantren Wajib Jadi Ruang Aman Santri

Ia juga sempat menceritakan obrolan terakhir bersama istrinya pada pagi hari sebelum berangkat bekerja ke Ciamis, Senin (2/11/2026). Saat dirinya bersiap dengan memakai pakaian dan parfum untuk ke Ciamis, saat itu sang istri meminta izin untuk pergi ke Cirebon bersama temannya untuk berbelanja. Sang istri bahkan sempat bilang akan membelikan Dudung celana olahraga dan parfum.

“Jadi jam 8 pagi itu saya berangkat ke Ciamis. Biasanya kalau perjalanan jauh, saya pasti tidur di mobil itu, tapi hari itu gak bisa tidur. Saya juga bayangkan istri saya ini beli parfum apa dan celana olahraga apa? Ketika balik dari Ciamis dan sampai Majalengka sekitar pukul tujuh malam, dapat telepon istri saya belum pulang. Tidak tahunya ada kejadian ini,” turur Dudung.

TETANGGA DENGAR TERIAKAN LIMA KALI

Sementara itu, kondisi rumah korban yang dipagar cukup tinggi membuat kasus perampokan disertai pembunuhan itu tidak diketahui warga sekitar. Meski demikian, tetangga yang rumahnya tepat di belakang rumah korban, sempat mendengar teriakan sebanyak lima kali meskipun tak terlalu kencang.

“Waktu itu saya sedang ngobrol di teras, lalu dengar teriakan tapi gak tahu asal-usulnya dari mana karena di sekeliling saya juga banyak orang yang teriak-teriak,” terang Maemunah (45), tetangga korban di Desa Kalianyar.

0 Komentar