Bisnis Perhotelan Masih Suram

pelatihan-batik-kriyan-(1)
TINJAU: Wakil Walikota Cirebon Eti Herawati dan Kepala Disnaker Agus Sukmanjaya berkunjung ke Batik Story Kriyan, Selasa (3/3). FOTO: OKRI RIYANA/RADAR CIREBON
0 Komentar

CIREBON – Bisnis perhotelan di Kota Cirebon akibat pandemi covid-19 masih suram. Bahkan setelah Idul Fitri belum bisa dipastikan kapan hotel-hotel di Kota Cirebon mulai beroperasi kembali.
Kepala Dinas Kepemudahan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP), Agus Suherman mengatakan, pandemi covid-19 masih belum jelas kapan akan berakhir. Imbasnya, aktivitas hotel masih sama sebelumnya, baik sebelum maupun sesudah lebaran. “Aktivitas hotel masih sama, baik sebelum maupun sesudah lebaran,” kata Agus, kepada Radar Cirebon, Senin (25/5/2020).
Agus menjelaskan, awal Mei jumlah hotel yang tutup mencapai 9, tapi sekarang bertambah menjadi 11 hotel yang berhenti beroperasi sementara. Total menjadi 11 hotel. Hotel yang berhenti beroperasi sementara diantaranya; Hotel Tryas, Grage hotel, Swissbell hotel, Hotel Citradream, Hotel Cirebon Plaza, Hotel Asri, Hotel Uma, Hotel Langensari, Hotel Amaris, Zamrud dan Hotel Ibis. “Untuk hotel yang tutup sementara sampai dengan pertengahan april sejumlah 9 hotel, sekarang menjadi 11 hotel,” katanya.
RELAKSASI PSBB TAHAP KEDUA
Meski memberlakukan relaksasi pada Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap kedua, namun tidak cukup untuk mendongrak hunian hotel mengingat adanya pembatasan warga bepergian ke luar kota.
Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) meminta pengusaha untuk menaati Protokol Covid-19 pada penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap dua.
Seperti diketahui, PSBB tahap kedua berupa relaksasi kepada masyarakat termasuk pengusaha khususnya pengusaha retail untuk kembali beroperasi.
Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker), Agus Sukmanjaya S Sos menjelaskan, penerapan PSBB dengan relaksasi jangan sampai mengabaikan protokol covid-19. “Perusahaan harus memperhatikan protocol covid-19,” kata Agus.
Dia memahami adanya relaksasi karena kebutuhan masyarakat yang tinggi saat lebaran, begitu juga perusahaan membutuhkan keberlangsungan operasional.
Karenanya, satu-satunya jalan adalah mematuhi protokol covid-19 baik oleh perusahaan maupun pengunjung.
“Kalau tidak cuci tangan, tidak pakai masker dan tidak jaga jarak, jangan diperbolehkan masuk,” tegas dia.
Sebelumnya, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Cirebon, Imam Reza Hakiki memprediksi, butuh enam bulan untuk bisnis hotel untuk kembali. Itu pun dengan catatan kasus covid-19 sudah dapat ditangani oleh pemerintah.

0 Komentar