Ekskavasi Situs Dingkel Dihentikan

Ekskavasi Situs Dingkel Dihentikan
DIHENTIKAN: Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu menghentikan ekskavasi Situs Dingkel di Desa Sambimaya, Minggu (13/12). JAMAL/RADAR INDRAMAYU
0 Komentar

 
INDRAMAYU-Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Banten dan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Indramayu sepakat untuk menghentikan sementara kegiatan ekskavasi (penggalian) awal terhadap temuan struktur bata di Situs Dingkel Desa Sambimaya Kecamatan Juntinyuat, Minggu (13/12).
Penghentian sementara ini disebabkan batas akhir penganggaran program ekskavasi yang dimulai sejak tanggal 2 Desember hingga 11 Desember 2020.
Sebagai tanda dihentikannya ekskavasi di Situs Dingkel tersebut, tim arkeolog dari BPCB Banten dan TACB Kabupaten Indramayu melakukan penutupan temuan dengan menggunakan plastik dan melakukan pengurugan terhadap temuan.
Tim arkeolog juga mengamankan fragmen atau pecahan bata merah ke tempat yang aman dari aktivitas masyarakat. Selain mengamankan situs, tim juga menandai lokasi situs dengan patok permanen yang terbuat dari semen cor sehingga apabila dilakukan ekskavasi atau penelitian lanjutan akan memudahkan tim peneliti untuk mencari titik koordinat situs.
Ketua Tim Penelitian Dan Penyelamatan Situs Dingkel, Soni Prasetiya Wibawa mengatakan, ekskavasi penyelamatan di Situs Dingkel sudah dihentikan. Menurutnya, ekskavasi dan penelitian akan dilanjutkan pada tahun depan.
“Tidak saja oleh BPCB Banten, penelitian tersebut akan dilakukan oleh Balai Arkeologi Jawa Barat atau instansi lain seperti Provinsi Jawa Barat maupun Pemkab Indramayu sendiri. Tergantung alokasi anggaran yang disediakan,” kata Soni, Minggu (13/12).
Soni menjelaskan, untuk mengungkap tinggalan arkeologi melalui metode ekskavasi diperlukan alokasi anggaran yang tidak sedikit dan sifatnya multi year, sehingga diperlukan peran serta pemerintah di daerah untuk dapat bersama-sama mengatasi masalah pengungkapan cagar budaya yang ada di daerah.
Terkait dengan temuan di Situs Dingkel, Soni menjelaskan, timnya berhasil menemukan 21 susunan lapisan bata merah dan menemukan sudut bangunan yang diduga candi. Tim juga menemukan lantai bangunan dan fragmen atau pecahan stupa yang berbahan bata merah. Temuan lain, terdapat pecahan keramik eropa, fragmen tepian gerabah dan arang. “Temuan di Situs Dingkel ini sangat menarik bagi tim,” jelasnya.
Terkait dengan temuan di Situs Dingkel, arkeolog senior sekaligus ahli candi Indonesia Prof Dr Agus Aris Munandar menyatakan, Situs Dingkel ini merupakan sebuah kawasan atau kompleks permukiman umat Budha pada masa itu. Melihat dari hasil temuannya, Profesor Agus tidak menampik situs ini memiliki kesamaan dengan Situs Batujaya di Karawang dan Situs Muaro Jambi di Jambi.

0 Komentar