Lebih Dekat dengan Aerli Rasinah; Cucu Maestro Tari Topeng Mimi Rasinah

aerli-rasinah-tari-topeng
Aerli Rasinah, cucu maestro Seni Tari Topeng Tradisional Nusantara asal Indramayu, Jawa Barat.
0 Komentar

Bukan hanya itu, sebenarnya Aerli anak ke-3 dari 5 bersaudara ini, pernah mengalami trauma berat menari sejak kecil.
Pada usia 5 tahun, dia pernah menari di sebuah pentas sandiwara, dalam rangka mengisi hiburan hajatan. Namun nahas, petasan yang berada di atas panggung membakar habis seluruh tubuh mungilnya saat pentas. Ia pun harus dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indramayu dan mengalami koma selama 3 bulan. Bekas cacat luka itu masih ada sampai saat ini. Tapi, traumatik itu dia lawan demi melestarikan budaya tari topeng yang sudah berusia lebih dari setengah abad ini.
Tidak sebanyak sekarang, dahulu muridnya hanya 2 atau 3 orang. Belum lagi, tari topeng mendapatkan stigma negatif mistis dari sebagian orang. Terlebih, Aerli adalah penari wanita yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk urusan rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Dari penghasilan menjadi penari topeng tidak memadai. Sekadar untuk makan sehari-hari saja susah sekali.
Tantangan lainnya di zaman modern ini, anak  muda minat ke budaya luar seperti K-Pop juga cukup tinggi. Ketimbang belajar seni tari  atau merawat tradisi, mereka lebih suka menonton drama korea (drakor) atau menari ala-ala K-Pop.
Apalagi, di tengah pandemi Covid-19 saat ini, semua seniman terkena dampak ekonomi yang dahsyat. Semua pertunjukan seni harus vakum. Termasuk sebagian besar kegiatan Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah.
“Saya rasa setiap sesuatu memiliki tantangannya tersendiri. Dulu saat kita merintis Sanggar Tari Topeng ini juga sangat susah. Butuh kerja keras dan pengorbanan yang besar. Namun, kalau bukan kita siapa lagi? Tidak mungkin kita mengandalkan orang lain untuk melestarikan budaya kita sendiri,” tutur Aerli Rasinah yang saat ini menjadi Ketua Sanggar Tari Topeng Mimi Rasinah Indramayu.
Aerli Rasinah berjuang sepeninggal neneknya, melakukan regenerasi muda. Baik membuka kelas tari topeng di sanggar atau di sekolah-sekolah dasar di wilayah Kabupaten Indramayu. Meskipun di beberapa lembaga pendidikan sekolah dasar, masih ada penolakan dengan berbagai alasan masing-masing. Namun, semangat Aerli tidak padam. Justru itu memicu dirinya agar berupaya lebih keras lagi agar diterima dengan baik.

0 Komentar