Pakwan Pajajaran, Mengenal Ibu Kota Kerajaan Sunda di Bogor

sejarah-kerajaan-sunda
Prabu Dewataprana Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi pernah memerintah Kerajaan Sunda/Istimewa.
0 Komentar

Ia mengingatkan bahwa dalam Carita Parahyangan disebut-sebut tokoh Sang Haluwesi dan Sang Susuktunggal yang dianggapnya masih mempunyai pengertian ‘paku’.

Ia juga berpendapat bahwa ‘pakuan’ bukanlah nama, tapi merupakan kata benda umum yang berarti ibukota (hoffstad) yang harus dibedakan dari keraton.

Kata ‘pajajaran’ ditinjaunya berdasarkan keadaan topografi. Ia merujuk laporan Kapiten Wikler (1690) yang memberitakan bahwa ia melintasi istana Pakuan di Pajajaran yang terletak antara Sungai Besar dengan Sungai Tanggerang (disebut juga Ciliwung dan Cisadane).

Baca Juga:Nina Ketemu Ridwan Kamil, Ada Kalimat Khusus untuk Lucky HakimP1 – P4 Wajib Tahu, Update Terbaru Pengumuman PPPK Guru, Cek di Sini

Ten Dam menarik kesimpulan bahwa nama ‘Pajajaran’ muncul karena untuk beberapa kilometer Ciliwung dan Cisadane mengalir sejajar. Jadi, Pakuan Pajajaran dalam pengertian Ten Dam adalah Pakuan di Pajajaran atau ‘Dayeuh Pajajaran’.

Sebutan ‘Pakuan’, ‘Pajajaran’, dan ‘Pakwan Pajajaran atau ‘Pakuan Pajajaran’ dapat ditemukan dalam Prasasti Batutulis (nomor 1 & 2) sedangkan nomor 3 bisa dijumpai pada Prasasti Kebantenan di Bekasi.

Dalam naskah Carita Parahiyangan ada kalimat berbunyi ‘Sang Susuktunggal, inyana nu nyieunna palangka Sriman Sriwacana Sri Baduga Maharajadiraja Ratu Haji di Pakwan Pajajaran nu mikadatwan Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, inyana pakwan Sanghiyang Sri Ratu Dewata’ (Sang Susuktunggal, dialah yang membuat tahta Sriman Sriwacana (untuk) Sri Baduga Maharaja Ratu Penguasa di Pakuan Pajajaran yang bersemayam di keraton Sri Bima Punta Narayana Madura Suradipati, yaitu pakuan Sanghiyang Sri Ratu Dewata).

Sanghiyang Sri Ratu Dewata adalah gelar lain untuk Sri Baduga. Jadi yang disebut ‘pakuan’ itu adalah ‘kadaton’ yang bernama Sri Bima dan seterunya.

‘Pakuan’ adalah tempat tinggal untuk raja, biasa disebut keraton, kedaton atau istana. Jadi tafsiran Poerbatjaraka lah yang sejalan dengan arti yang dimaksud dalam Carita Parahiyangan, yaitu ‘istana yang berjajar’.

Tafsiran tersebut lebih mendekati lagi bila dilihat nama istana yang cukup panjang tetapi terdiri atas nama-nama yang berdiri sendiri. Diperkirakan ada lima bangunan keraton.

Masing-masing Bima, Punta, Narayana, Madura dan Suradipati. Inilah mungkin yang biasa disebut dalam peristilahan klasik ‘panca persada’ (lima keraton).

0 Komentar