Tradisi Antar Makanan Jelang Ramadan; Dulu Gunakan Rantang, Kini Pakai Styrofoam

Tradisi Antar Makanan Jelang Ramadan; Dulu Gunakan Rantang, Kini Pakai Styrofoam
TRADISI BAIK: Menjelang datangnya bulan Ramadan, warga di pedesaan saling mengantarkan makanan. Dulu menggunakan rantang kini pakai styrofoam. KHOLIL IBRAHIM/RADAR INDRAMAYU
0 Komentar

 
Bulan suci Ramadan memunculkan berbagai tradisi baik dari berbagai daerah. Tak terkecuali penduduk di pelosok pedesaan wilayah Kabupaten Indramayu bagian barat (Inbar). Sebagian besar warga disana tetap melestarikan tradisi saling mengantaran paket makanan siap saji. Ke sanak famili, kerabat dan tetangga terdekat.
KHOLIL IBRAHIM, Anjatan
TRADISI antar makanan ini merupakan salah satu rutinitas yang dilakoni Yati (40) dalam menyambut datangnya bulan Ramadan. Kendati di tengah pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak bulan puasa tahun sebelumnya. Bukan penghalang bagi ibu dua orang anak ini untuk berbagi.
“Sudah tradisi keluarga. Sebagai bentuk silaturahmi, saling maaf memaafkan menyambut bulan puasa,” ucap ibu rumah tangga asal Desa Kopyah, Kecamatan Anjatan ini, Minggu (11/4).
Walau diakuinya, sejak Covid-19 melanda, tradisi mengantarkan makanan mengalami perbedaan. Dilihat dari pembungkus makanannya. Jika dulu makanan yang diantar menggunakan rantang logam yang berat, kini pakai plastik seperti styrofoam.
Lebih praktis. Namun jumlah makanan yang diantar terbatas. Beda dengan rantang yang isinya aneka macam. Mulai dari nasi, lauk-pauk, sayur, buah-buahan dan olahan panganan lainnya.
“Ada sih yang masih pakai rantang. Tapi untuk yang spesial saja, kaya orang tua, adik, kakak, rekan kerja, guru atau orang yang kita hormati. Untuk tetangga pakai styrofoam aja,” ujar dia.
Ibu rumah tangga lainnya, Wasniah membenarkan. Penggunaan styrofoam sebagai pembungkus makanan penganti rantang kini mulai ngetren. Padahal dulunya hanya dipergunakan oleh warung makan atau jajanan kuliner.
“Pas ada Covid-19, jadinya pakai styrofoam semua. Memang lebih murah, ringan, kuat dan lebih tahan lama sih,” ujarnya.
Menurut dia, tradisi ini biasanya dilaksanakan secara bergantian. Keluarga yang mendapatkan kiriman makanan, akan membalas dengan mengirimkan makanan dengan menu berbeda setelah beberapa hari berselang. (*) 

0 Komentar