Selain penataan dan perbaikan fasilitas, pedagang juga menyoroti minimnya promosi dari pemerintah daerah. Menurut mereka, kawasan ini kehilangan daya tarik karena tak lagi dihidupkan dengan agenda rutin seperti sebelumnya. “Dulu hampir tiap minggu ada acara. Sekarang sudah jarang, bahkan hampir tidak ada,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah dan dinas terkait tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. “Saya berharap ada perhatian lebih, fasilitas diperbaiki, promosi digencarkan, dan kegiatan dihidupkan lagi. Supaya pusat kuliner dan Pasar Batik Trusmi bisa kembali ramai seperti dulu,” pungkasnya.
Perlu diketahui, bahwa pengelolaan pedagang di dalam kawasan berada di bawah kewenangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperdagin) Kabupaten Cirebon. (sam)
