Sentra Batik Trusmi Sempat Digadang-gadang Jadi Pusat Kuliner Cirebon, Kini Redup, Lapak Ditinggal

Gemerlap Sentra Batik Trusmi Pusat Kuliner Meredup
MULAI REDUP: Kondisi Centra Pasar Batik Trusmi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Minggu (1/2/2026). Sebelumnya, lokasi itu sempat ramai dan digadang-gadang menjadi ikon wisata kuliner dan batik. Kini di dalam kawasan itu tersisa 12 pedagang yang masih bertahan. Foto: Samsul Huda/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Gemerlap pusat kuliner di Sentra Batik Trusmi, Kecamatan Weru, kehilangan daya tarik. Area yang sempat digadang-gadang menjadi ikon wisata kuliner dan batik Kabupaten Cirebon itu perlahan meredup.

Riuh pengunjung menghilang. Panggung hiburan atau gedung bundar yang dulu kerap menjadi pusat kegiatan dan event terlihat sunyi. Deretan lapak pedagang yang dulu ramai tampak sepi. Kondisi bangunan di belakang Sentra Batik Trusmi pun tidak terawat. Memprihatinkan. Rumput liar tumbuh di sela-sela lapak yang ditinggalkan.

Ya, jejak geliat ekonomi yang sempat hidup seolah terhapus waktu. Terbilang singkat. Pada baru mulai sekitar bulan Oktober 2025. Kini justru menuju sunyi. sepi. Salah satu pedagang kelontong yang masih bertahan, H Uus, menceritakan perubahan itu dengan nada getir.

Baca Juga:Ketika Akta Cerai Online di Cirebon Mudah Diakses: Klik, Unduh, Resmi BerpisahStreet Food Jalan Moh Toha Tumbuh Pesat, Jadi Magnet Baru Kuliner Kota Cirebon

Menurutnya, area yang dulu dipenuhi Pedagang Kaki Lima (PKL) dengan aneka sajian kuliner, kini nyaris tak berpenghuni. “Dulu ramai, sekarang sepi. Lapak-lapak sudah banyak ditinggal, rumput liar mulai tumbuh,” ujar Uus, Minggu (1/2/2026).

Tak hanya sepi pengunjung, kondisi fisik bangunan pun kian memprihatinkan. Sejumlah fasilitas rusak dan belum tersentuh perbaikan. Atap bocor, bagian belakang bangunan rusak, hingga gapura depan yang menjadi wajah kawasan tampak kusam dan ditumbuhi semak.

“‎Meski kios disediakan secara gratis, risiko sepinya pembeli membuat pedagang enggan bertahan. Alasannya, listrik dan kebersihan tetap ada iuran. Itu dikelola DKM Masjid. Kalau pembeli sepi, ya pedagang juga berpikir ulang,” ungkapnya.

Senada disampaikan pedagang lainnya. Yogi. Menurutnya, sepinya pengunjung juga dipicu oleh masih maraknya PKL yang berjualan di sepanjang Jalan Fatahillah. Kondisi itu membuat calon pembeli lebih memilih berbelanja di luar kawasan, tanpa harus masuk ke pusat kuliner dan pasar batik.

“Dari sekitar 50 pedagang di dalam Sentra Batik Trusmi, sekarang tinggal sekitar 12. Sementara PKL di luar, dari Jalan H Abas sampai gapura pintu masuk, awalnya ada sekitar 206 pedagang, sekarang tinggal 112,” ungkapnya.

Saat ini, para pedagang berharap pemerintah dapat mengembalikan lokasi berjualan PKL ke tempat semula, yakni di Jalan Syekh Datul Kahfi agar aktivitas tidak terpusat di Jalan Fatahillah. “Di Jalan Fatahillah itu PKL dari pagi sampai pagi lagi. Akhirnya pengunjung terpecah dan malas masuk ke dalam kawasan,” jelas pedagang Seblak dan Tahu Sumedang itu.

0 Komentar