Seren Taun di Kuningan, Menjaga Warisan Leluhur dan Merawat Kearifan Lokal di Tengah Arus Zaman

Ist 
WARISAN BUDAYA: Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar bersama ribuan masyarakat memadati Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, dalam puncak perayaan Seren Taun 1957 Saka.
0 Komentar

Menurut Dian, di tengah perkembangan zaman yang begitu cepat, masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi identitas sekaligus kekuatan bangsa.

“Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya,” katanya.

Ia mengaku bangga, karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.

Baca Juga:Bupati Kuningan Buka Turnamen Voli Bangkit Bersatu Cup IEceng Gondok Ancam Waduk Darma, Bupati Dian Siapkan Penanganan Terpadu

“Ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kuliner, tetapi juga berbicara tentang Cigugur dan Seren Taun,” tuturnya.

Lebih jauh, Dian menyebut Seren Taun sebagai miniatur Indonesia yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan secara harmonis. Menurutnya, masyarakat Cigugur telah memberikan teladan bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan persaudaraan.

“Keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama,” ungkapnya.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pelestarian budaya, Pemerintah Kabupaten Kuningan berencana memasukkan Seren Taun ke dalam kalender budaya daerah agar meriah dan meningkatkan kunjungan wisatawan baik domestik maupun internasional ke Kabupaten Kuningan. (ags)

0 Komentar