RADARCIREBON.ID – Di tengah derasnya arus modernisasi yang terus mengubah wajah kehidupan masyarakat, Upacara Adat Seren Taun Tahun 1957 Saka di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, kembali menjadi pengingat pentingnya menjaga warisan budaya dan kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun oleh para leluhur.
Ribuan masyarakat dari berbagai daerah memadati kawasan Paseban Tri Panca Tunggal untuk mengikuti puncak perayaan Seren Taun yang berlangsung khidmat sekaligus meriah. Lebih dari sekadar tradisi syukur atas hasil bumi, Seren Taun menjadi ruang perjumpaan budaya yang memperkuat persaudaraan, toleransi, serta identitas kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Nuansa budaya begitu terasa sepanjang rangkaian acara. Berbagai pertunjukan seni tradisional yang merepresentasikan kekayaan budaya Nusantara tampil memukau para tamu undangan. Tari Puragabaya Gebang menghadirkan semangat kepahlawanan dan kebudayaan Sunda, disusul penampilan Angklung Kanekes dari masyarakat Baduy yang sarat nilai kesederhanaan dan harmoni dengan alam.
Baca Juga:Bupati Kuningan Buka Turnamen Voli Bangkit Bersatu Cup IEceng Gondok Ancam Waduk Darma, Bupati Dian Siapkan Penanganan Terpadu
Tak kalah memikat, Angklung Buncis yang menjadi bagian dari tradisi agraris masyarakat Kuningan turut menghidupkan suasana. Sementara Tari Buyung menampilkan filosofi kedekatan masyarakat Sunda dengan alam sebagai sumber kehidupan.
Perayaan semakin istimewa dengan hadirnya Tari Rejang Renteng dari Bali yang dibawakan oleh perempuan-perempuan yang telah menikah dalam jumlah ganjil. Tarian sakral yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO itu menjadi simbol penghormatan, rasa syukur, serta persembahan kepada Sang Pencipta.
Namun, inti dari Seren Taun sesungguhnya terletak pada prosesi adat yang sarat makna. Mulai dari Helaran Memeron yang menghadirkan arak-arakan budaya masyarakat, Ngajayak sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan, Pangrajah yang berisi doa-doa keselamatan, hingga prosesi Penumbukan Padi yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil bumi sekaligus penghormatan terhadap tradisi pertanian yang diwariskan leluhur.
Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar menegaskan, bahwa Seren Taun bukan sekadar perayaan panen, melainkan sebuah perjalanan kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun adalah perjalanan kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan, ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan,” ujarnya.
