RADARCIREBON.ID -Yang terbakar bukan hanya rumah atau lahan. Armada pemadam kebakaran (damkar) Kabupaten Cirebon juga seperti menunggu giliran “dipadamkan”.
Itu menjadi pekerjaan rumah (PR) Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon. Pelayanan dasar tersebut menghadapi tantangan besar.
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kabupaten Cirebon Drs Dadang Suhendra MSi mengakui, kondisi armadanya sangat memprihatinkan.
Baca Juga:Bidik Teknologi PSEL untuk Olah Seribu Ton Sampah Penuh Lubang, Aspal Mengelupas, Jalan dr Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon Rusak
Dari 13 kendaraan yang tersebar di 11 pos pemadam, sejumlah armada mengalami kerusakan berat.
Ada yang sudah ambruk. Ada yang sasisnya retak. Ada pula yang dimakan karat. “Kondisi mengkhawatirkan itu terdapat di semua pos,” kata Dadang kepada Radar Cirebon.
Menurutnya, Disdamkarmat itu merupakan pelayanan dasar yang selama ini diabaikan oleh pemerintah daerah. Seperti dianaktirikan. Padahal, tugasnya sangat berat menyematkan nyawa dan bangunan saat terjadi kebakaran.
“Beberapa kali mengajukan pengadaan mobil damkar selalu dicoret. Sementara kondisi armada mayoritas tidak sehat,” terangnya.
Diungkapkan Dadang, armada di Pos Greged dan Palimanan, misalnya, kondisinya sudah tidak sehat. Di Pos Gunungjati, sasis kendaraan retak dan meleyot. Sedangkan armada di Pos Pangenan mengalami korosi cukup parah.
Bukan hanya mobilnya. Kantor Pos Pangenan juga ikut menjadi korban ganasnya udara laut. “Pangenan itu kan berada di dekat pantai,” katanya.
Menurutnya, korosi menjadi masalah serius karena kendaraan pemadam bukan kendaraan yang boleh sekadar hidup. Harus siap melaju kapan saja ketika terjadi peristiwa kebakaran.
Baca Juga:Jalan Ambles Makin Parah, Pemkab Cirebon Didesak Segera Lakukan Perbaikan Di Balik Kasus Pencabulan Remaja Disabilitas di Jagasatru, Pelaku Baru Lulus SMA, Keluarga Korban Tutup Pintu
“Selama ini, keterbatasan armada ditutup dengan memaksimalkan kendaraan yang berada di Pos Sumber,” paparnya.
Tapi, kata Dadang, di Pos Sumber pun masalah yang sama menunggu. Armada yang digunakan sudah berusia sekitar 10 tahun. Bahkan, ada kendaraan yang umurnya mencapai 24 tahun.
Dadang menyampaikan, setiap hari kendaraan bisa dipaksa keluar masuk jalan menangani kebakaran lahan maupun bangunan. “Minimal dalam satu hari armada kendaraan empat kali ngegas di jalan,” ungkapnya.
Kendaraan yang sering dipakai otomatis berdampak pada kondisi armada. “Kendaraan normal saja, lima tahun ganti. Apalagi armada damkar yang mempunyai mobilitas tinggi. 15 menit harus sudah tiba di lokasi kejadian,” jelasnya.
