Seluruh pembiayaan program, lanjut Agus, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana hingga perlengkapan siswa, sepenuhnya ditanggung oleh Kementerian Sosial.
“Semuanya dibiayai oleh Kementerian Sosial, baik sarana, prasarana maupun perlengkapan siswa. Kami hanya mengantarkan anak-anak untuk mengikuti program tersebut,” katanya.
Berdasarkan hasil pendataan pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), sebanyak 90 anak berhasil direkrut sebagai peserta Sekolah Rakyat. Kecamatan Harjamukti menjadi penyumbang peserta terbanyak dengan 36 anak, disusul Lemahwungkuk 20 anak, Pekalipan 13 anak, Kejaksan tujuh anak, dan Kesambi empat anak. Dari jumlah tersebut, terdapat 37 siswa perempuan dan 48 siswa laki-laki.
Baca Juga:MPLS di Kota Cirebon Penuh Warna, Datang Sejak Subuh, Menangis hingga Guru Jadi "Ortu Instan"Masuk Tahun Ajaran Baru, Harga Ayam dan Minyak Goreng Curah Naik
Agus mengatakan, peserta program berasal dari berbagai latar belakang. Sebagian merupakan calon siswa baru, namun prioritas utama diberikan kepada anak-anak dari keluarga Desil 1 dan Desil 2 yang putus sekolah.
“Ada yang baru akan masuk sekolah, ada juga yang sebelumnya putus sekolah. Prioritas kami adalah anak-anak dari Desil 1 dan Desil 2 yang putus sekolah. Program ini merupakan upaya memutus mata rantai kemiskinan sebagaimana arahan Ibu Menteri,” pungkasnya. (abd)
