“Langsung dibor dari samping ke dasar saluran, kemudian ketika air sudah mengalir, bisa langsung dialirkan ke sawah yang posisinya di tengah dan ujung, dengan dipasang pipa mengarah ke sana. Jadi, saat jadwal giliran air, semua petani bisa maksimal mendapatkan pasokan air untuk tanaman padi dan olah lahan,” paparnya.
Hal senada disampaikan Dira. Menurutnya, pembangunan saluran air secara swadaya menjadi salah satu solusi yang ditempuh petani agar tetap dapat mengolah lahan pada musim tanam gadu meski pasokan air terbatas.
Langkah tersebut dilakukan agar petani tidak terlalu kesulitan memeroleh air saat jadwal pembagian giliran berlangsung. Selain itu, upaya ini juga diharapkan mampu memenuhi kebutuhan air mulai dari proses pengolahan lahan, penanaman, hingga masa panen.
Baca Juga:Kemenag Majalengka Dukung Perpres Pertahanan UMC Kirim 15 Mahasiswa Ikuti KKN MAS 2026, Bergabung dengan 1.300 Peserta PTMA se-Indonesia
“Sawah yang lokasinya di tengah itu, sampai sekarang akhir Juli, belum tanam karena pasokan air ke sana kurang dan tidak mencukupi untuk olah lahan, meskipun pemerintah sudah menerapkan jadwal giliran air. Jadi, petani mulai swadaya, ada yang menggunakan pompa air, sampai membuat saluran air sendiri. Yang penting semuanya sudah berikhtiar,” ujar Dira. (oni)
