RADARCIREBON.ID – Inovasi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) mulai memberi dampak langsung terhadap produktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Melalui program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM) Kelompok 10, mahasiswa UMC mengembangkan dan menyerahkan mesin pemotong tahu otomatis kepada Pabrik Tahu H. Rakum di Desa Ciledug Wetan, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, pada 17 September 2026.
Inovasi tersebut dirancang untuk menjawab persoalan produksi yang selama ini dihadapi pelaku usaha, terutama proses pemotongan tahu yang membutuhkan waktu dan tenaga operator. Mahasiswa Teknik Industri bersama mahasiswa KKM melakukan identifikasi persoalan, pengumpulan data, analisis kebutuhan, hingga pendampingan penerapan alat agar teknologi yang dibuat sesuai dengan kondisi produksi di lapangan.
Hasil pengujian menunjukkan perubahan signifikan. Penggunaan mesin mampu memangkas waktu pemotongan tahu dari 45 detik menjadi 15 detik per sesi atau terjadi pengurangan waktu sekitar 66,67 persen. Kapasitas produksi juga meningkat dari sekitar 132 potong per menit menjadi 726 potong per menit atau sekitar 5,5 kali lipat dibandingkan sebelum menggunakan mesin.
Baca Juga:BPN Kabupaten Indramayu Komitmen Tingkatkan Pelayanan Dorong Peningkatan Pelayanan Perumdam Tirta Bhakti Raharja
Selain mempercepat proses produksi, mesin tersebut dirancang menghasilkan ukuran potongan yang lebih presisi dan konsisten. Otomatisasi juga mengurangi beban kerja operator sehingga tenaga manusia dapat dialihkan untuk mendukung aktivitas produksi lainnya. Penanggung Jawab Program, Syafiqotunnu’ma, mengatakan teknologi tersebut dirancang berdasarkan persoalan nyata yang ditemukan di lingkungan UMKM.
“Otomatisasi merupakan salah satu cara agar UMKM dapat naik kelas. Karena itu, alat ini dirancang tidak sekadar untuk mempercepat proses produksi, tetapi disesuaikan dengan pendekatan keilmuan Teknik Industri dan kebutuhan produksi UMKM,” ujarnya.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) KKM Kelompok 10, Masdum Mustaqwa, M.T., mengatakan pengabdian mahasiswa seharusnya tidak berhenti pada kehadiran di tengah masyarakat, tetapi menghasilkan solusi yang dapat dimanfaatkan secara langsung. Ia berharap mesin tersebut terus dikembangkan dan dapat direplikasi oleh UMKM pabrik tahu lainnya di wilayah Ciledug Wetan.
“Kami mengapresiasi hasil kerja mahasiswa karena mereka tidak hanya hadir di masyarakat, tetapi juga mampu mengidentifikasi persoalan kemudian menghadirkan solusi yang bisa langsung digunakan,” kata Masdum.
