RADARCIREBON.ID- Beberapa mahasiswa internasional tampak memperhatikan satu per satu koleksi yang tersimpan di Museum Cakrabuana di Sumber. Sesekali mereka berhenti lebih lama di depan benda yang menarik perhatian, sebelum melanjutkan langkah ke koleksi lainnya.
Lukisan kaca, topeng khas Cirebon, batik, pakaian, ornamen hingga berbagai benda yang berkaitan dengan kesenian, pertanian, peralatan rumah tangga hingga manuskrip dan objek lainnya menjadi bagian dari pengalaman baru bagi mereka.
Bagi Fatou Bajinka, mahasiswa asal The Gambia, kunjungan tersebut bukan sekadar perjalanan melihat koleksi museum. Ini menjadi kesempatan pertamanya untuk mengenal budaya Cirebon dari jarak dekat. “Ini pertama kalinya saya mengunjungi museum di Cirebon. Saya melihat banyak budaya yang menarik. Semuanya saya suka,” ujar Mahasiswi Internasional Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) tersebut.
Baca Juga:Mesin Investasi Terus Dipacu, Rp3,23 Triliun Sudah Masuk Kabupaten CirebonBerkat Kartu Identitas di Tas Pinggang Yaya Carya, Korban KM Virgo asal Cirebon
Indonesia bahkan menjadi negara pertama yang dikunjunginya. Karena itu, melihat langsung keragaman budaya di Indonesia memberikan pengalaman tersendiri baginya. Menurut Fatou, banyak hal yang ditemuinya di museum terasa baru.
Ia bisa melihat bagaimana budaya Cirebon ditampilkan melalui berbagai karya seni dan benda yang selama ini hanya bisa ia dengar atau lihat dari cerita. “Bisa melihat budaya Indonesia secara langsung merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya,” katanya kepada Radar Cirebon.
Pengalaman serupa dirasakan Naden Nader, Muntisir Yousof Zakaria Mohamed, dan Obai Saif Eldin Mohammed Osman, mahasiswa asal Sudan. Bagi mereka, kunjungan ke Museum Cakrabuana juga merupakan pengalaman pertama mengunjungi museum. Padahal, mereka telah beberapa bulan tinggal di Cirebon untuk menjalani aktivitas sebagai mahasiswa internasional.
Kesempatan untuk melihat lebih dekat budaya dan kesenian Cirebon baru mereka dapatkan melalui kunjungan tersebut. Perbedaan budaya antara Cirebon dengan Sudan membuat mereka semakin tertarik untuk mengetahui lebih banyak. Berbagai koleksi museum menjadi pintu awal untuk mengenal tradisi masyarakat Cirebon.
Mereka pun mengaku ingin mempelajari budaya Indonesia lebih dalam, terutama budaya Cirebon yang memiliki karakter berbeda dengan budaya di negara asal mereka. Adapun keterbatasan bahasa menjadi tantangan tersendiri. Namun, perbedaan bahasa tidak menghalangi rasa ingin tahu mereka. Dengan kemampuan bahasa Indonesia yang masih berkembang, para mahasiswa tetap berusaha memahami penjelasan dan mengenali berbagai koleksi yang ada.
