Kuningan Siaga Hadapi Musim Hujan, Bencana Hidrometeorologi Jadi Perhatian

Ist 
ANTISIPASI: Pemkab Kuningan memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi menjelang musim penghujan. 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID–Memasuki masa peralihan menuju musim penghujan, Pemerintah Kabupaten Kuningan mulai memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi. Langkah antisipasi dilakukan setelah sepanjang 2026 wilayah Kuningan menghadapi kekeringan meteorologis hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berdampak pada puluhan hektare kawasan.

Kesiapan menghadapi potensi banjir dan tanah longsor menjadi perhatian dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Kesiapan Penanggulangan Bencana Alam Banjir dan Tanah Longsor di Kantor Setda Kuningan, kemarin.

Dalam rakor tersebut disampaikan bahwa sebagian besar wilayah Jawa Barat diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026. Sementara puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Februari 2027.

Baca Juga:Kalapas Tegaskan Tak Ada Hunian Mewah di Lapas KuninganKarya 3D Anaglyph Hadirkan Perspektif Baru

Kondisi tersebut menjadi perhatian karena karakter ancaman bencana dapat berubah seiring pergantian musim. Setelah menghadapi kekeringan dan karhutla pada musim kemarau, masyarakat kini dihadapkan pada potensi banjir, tanah longsor, angin kencang, hingga bencana hidrometeorologi lainnya.

Sepanjang 2026, kebakaran hutan dan lahan di Kuningan tercatat berdampak pada area sekitar 58,96 hektare. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan terhadap lingkungan sekaligus menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi perubahan ancaman bencana.

Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar menegaskan, penanggulangan bencana tidak boleh hanya mengandalkan respons setelah kejadian. Pemerintah dan seluruh unsur terkait harus bekerja berdasarkan pemetaan risiko agar langkah pencegahan dapat dilakukan sebelum ancaman berkembang menjadi bencana.

Menurut Dian, pendekatan berbasis risiko memungkinkan pemerintah mengidentifikasi wilayah rawan, menyiapkan sumber daya, serta memperkuat koordinasi lintas sektor. Dengan begitu, penanganan tidak hanya berfokus pada evakuasi dan pemulihan setelah bencana terjadi.

“Prinsipnya kita harus bergerak berdasarkan risiko, bukan berdasarkan karena kejadian,” tegasnya.

Dian mengatakan kesiapan dan kesiagaan menjadi faktor penting untuk mengurangi dampak bencana, baik terhadap keselamatan masyarakat maupun kerugian material. Perubahan kondisi dari musim kemarau menuju musim hujan juga harus diikuti dengan perubahan strategi mitigasi.

Ketika musim kering meningkatkan risiko kebakaran dan kekurangan air, kata dia, memasuki musim hujan ancaman dapat bergeser menjadi banjir dan tanah longsor. Karena itu, seluruh perangkat daerah dan unsur penanggulangan bencana perlu memastikan kesiapan menghadapi berbagai kemungkinan.

0 Komentar