Lebih lanjut, Menag secara terbuka menyampaikan kekagumannya terhadap kesinambungan jenjang pendidikan di Mambaus Sholihin yang sangat lengkap dan terstruktur, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi jenjang doktoral (S3).
“Saya sudah lama membaca direktori Pondok Pesantren Mambaus Sholihin, mulai dari TK sampai perguruan tinggi S3, sejarahnya, dan kurikulumnya. Saya mendorong model tata kelola pendidikan dan pembinaan santri di Pondok Pesantren Mambaus Sholihin ini agar dapat direplikasi dan menjadi prototipe bagi pesantren di seluruh Indonesia,” ujarnya, dilansir dari rilis Kemenag.
Sementara itu, Majduddin menjelaskan bahwa kekuatan utama kurikulum Mambaus Sholihin terletak pada sintesis unik antara tradisi keilmuan pesantren klasik, metode modern, dan olah spiritualitas. Hal ini tidak lepas dari latar belakang keilmuan sang pengasuh, KH. Masbuhin Faqih.
Baca Juga:BPJS PBI Cirebon Jadi Sorotan, DPRD Gelar Rapat, Kadinkes Enny Sebut Keterbatasan AnggaranGubernur: Tetap Dilayani Meski BPJS Bermasalah
“Karakter Mambaus Sholihin merupakan perpaduan utuh. Beliau (KH. Masbuhin Faqih) mengenyam pendidikan di Gontor yang menitikberatkan pada penguasaan bahasa Arab dan Inggris secara aktif serta kedisiplinan. Kemudian beliau melanjutkan talaqqi ke Pondok Pesantren Langitan mendalami kitab kuning secara mendalam—mulai dari Alfiyah, Ushul Fiqh, Imrithi, hingga Nahwu dan Sharaf. Sisi spiritualitasnya diperkuat melalui baiat dan bimbingan langsung Romo KH. Utsman Al-Ishaqi,” paparnya. (rc)
