Soal Mitigasi Radikalisme Digital, Putri Langka Sarankan Pendekatan Dialogis untuk Lindungi Anak

Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka MSi Psikolog, menyoroti fenomena radikalisasi
BERI TANGGAPAN: Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka MSi Psikolog, menyoroti fenomena radikalisasi digital yang belakangan ini menunjukkan tren peningkatan. --FOTO: IST---
0 Komentar

Putri mengibaratkan proses tersebut dengan perekrutan anggota geng motor di dunia nyata atau secara luring (offline).

Calon anggota diberi identitas baru, mendapatkan pujian, dan ditawarkan ruang aman yang sebenarnya bersifat artifisial. Kondisi itu membuat mereka merasa diterima dan bebas mengekspresikan diri.

Pola manipulasi serupa juga dapat terjadi di ruang digital. Setelah berhasil membangun kepercayaan, kelompok ekstremis mulai mengajukan permintaan (request) atau memberikan tantangan kecil kepada anak.

Baca Juga:WSC Juara Umum Fun Swim Kesaktian Pancasila Cup 2026Pancasila Sakti di Tengah Gempuran Ideologi Ekstrem dan Politik Pecah Belah Bangsa, Ini Kata Amir Mahmud

Permintaan tersebut kemudian ditingkatkan secara bertahap untuk menguji tingkat kepatuhan dan loyalitas mereka.

Sebagai upaya mitigasi sekaligus membangun ketahanan digital di lingkungan keluarga, Putri menekankan pentingnya peran orang tua dalam mengenali perubahan perilaku anak yang tidak biasa.

Misalnya, anak yang sebelumnya terbuka tiba-tiba menjadi tertutup, bersikap defensif, atau cenderung menghindari komunikasi dengan keluarga.

Orang tua juga perlu sesekali memeriksa jenis gim yang dimainkan anak serta mengetahui dengan siapa mereka berinteraksi melalui fitur obrolan.

Apabila anak memberikan jawaban seadanya, mengelak ketika ditanya lebih lanjut, atau diam-diam meluangkan waktu untuk bermain di luar jam yang telah dipantau, kondisi tersebut patut menjadi tanda kewaspadaan.

“Cara mengujinya bisa dengan mengambil akses mereka; jika anak menjadi sangat gelisah, marah, hingga tantrum berlebihan hanya karena tidak bermain satu hari, itu adalah tanda peringatan yang jelas,” tegas Putri.

Di sisi lain, Putri mengingatkan bahwa orang tua perlu membekali diri dengan pemahaman mengenai tahapan perkembangan fisik, psikologis, dan sosial pada masa remaja.

Baca Juga:Pengurus Orado Kabupaten Cirebon Periode 2026–2030 Resmi Dilantik, Siap Cetak Atlet BerprestasiHadangMu Competition 2026: Olahraga Tradisional dan Kearifan Lokal Bergema di UMC

Pengetahuan tersebut penting agar orang tua tidak mudah bereaksi secara berlebihan atau terbawa emosi ketika menghadapi perubahan perilaku anak.

Penolakan yang ditunjukkan anak, menurutnya, tidak selalu merupakan bentuk serangan pribadi terhadap keluarga.

Perilaku tersebut juga dapat berkaitan dengan perkembangan otak yang belum sepenuhnya matang dalam mengendalikan emosi dan mempertimbangkan sesuatu secara rasional.

Sebagai pihak yang lebih dewasa dan memiliki pengalaman hidup lebih panjang, orang tua dituntut untuk mengambil inisiatif dalam mencari pendekatan yang sesuai.

Langkah ini diperlukan agar komunikasi dengan anak tetap terjaga dan perbedaan cara pandang antargenerasi dapat dijembatani dengan baik.

0 Komentar