RADARCIREBON.ID – Bagi anak-anak dan remaja yang tumbuh di era digital, gim daring (online game) bukan lagi sekadar sarana hiburan.
Gim telah berkembang menjadi sebuah ekosistem tempat mereka bermain, menjalin pertemanan, mencari pengakuan, belajar, serta bersosialisasi.
Ruang virtual ini memiliki peran penting dan nilai tersendiri bagi perkembangan sosial mereka.
Baca Juga:WSC Juara Umum Fun Swim Kesaktian Pancasila Cup 2026Pancasila Sakti di Tengah Gempuran Ideologi Ekstrem dan Politik Pecah Belah Bangsa, Ini Kata Amir Mahmud
Persoalan muncul ketika aktivitas di ruang digital tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai dan pemahaman tentang literasi digital.
Celah kerentanan tersebut kerap dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan eksploitasi.
Salah satunya adalah kelompok radikal dan jaringan ekstremis yang menyusup melalui fitur obrolan dalam gim maupun grup tertutup di media sosial.
Akademisi Fakultas Psikologi Universitas Pancasila, Putri Langka MSi Psikolog, menyoroti fenomena radikalisasi digital yang belakangan ini menunjukkan tren peningkatan.
Menurutnya, anak-anak dan remaja berada dalam fase perkembangan ketika mereka mengalami krisis identitas dan memiliki kebutuhan besar untuk memeroleh validasi sosial.
Pada masa transisi tersebut, pengakuan dari lingkungan pertemanan (significant others) sering kali dianggap lebih penting dibandingkan arahan orang tua.
Situasi ini semakin rumit akibat kesenjangan antargenerasi (generation gap) yang kerap menimbulkan miskomunikasi di lingkungan keluarga.
Baca Juga:Pengurus Orado Kabupaten Cirebon Periode 2026–2030 Resmi Dilantik, Siap Cetak Atlet BerprestasiHadangMu Competition 2026: Olahraga Tradisional dan Kearifan Lokal Bergema di UMC
“Karena sekarang akses internet sangat mudah, dunia daring menjadi tempat pelarian. Namun, dengan kondisi psikologis remaja yang kritis tapi pertimbangannya belum utuh, rekrutmen terhadap mereka menjadi sangat mudah,” ujar Putri di Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Lulusan Magister Psikologi Universitas Indonesia tersebut menjelaskan bahwa proses radikalisasi digital berlangsung secara terselubung dan bertahap.
Para perekrut atau predator digital membutuhkan waktu untuk membangun kepercayaan (trust building) dengan calon korbannya.
Kepercayaan itu dibentuk melalui interaksi yang konsisten serta pemberian perhatian intensif yang mungkin tidak diperoleh anak di kehidupan nyata.
Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku akan semakin jauh memanfaatkan kedekatan emosional untuk memengaruhi korban.
Dukungan emosional, pujian sebagai bentuk penguatan perilaku (reinforcement), hingga pemberian hadiah sering digunakan sebagai alat untuk memikat anak.
“Hal ini menciptakan rasa senang dan berterima kasih dari anak, yang justru berbahaya ketika anak mulai merasa berutang kebaikan,” kata perempuan yang memiliki nama asli Maharani Ardi Putri tersebut.
