Keinginan itu bukan sekadar rencana yang disampaikan sepintas. Menurut Kadri, Reyhan telah menunjukkan kesungguhan sejak berusaha masuk ke sekolah tersebut. Ia bahkan dua kali mengikuti tes masuk SMKN 1 Mundu. Pada kesempatan pertama, Reyhan belum berhasil diterima. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya menyerah.
“Dia dua kali ikut tes ke SMKN 1 Mundu. Yang pertama tidak diterima. Tekadnya memang luar biasa. Katanya, biar bisa sekolah di Jepang dan membahagiakan orang tua,” tutur Kadri.
Bagi keluarga, cita-cita tersebut menjadi salah satu kenangan yang kini terus teringat. Reyhan yang masih berusia 18 tahun telah menyimpan harapan besar untuk masa depannya. Ia ingin menyelesaikan pendidikan, bekerja, dan memberikan kebahagiaan kepada orang tuanya.
Baca Juga:Demo Mahasiswa Jadi Alarm Soroti Kebijakan Pemkot Cirebon, Termasuk soal KPBU APJBupati Imron Meradang, Target PBB Masih Seret
Kadri juga memperoleh informasi bahwa Reyhan sempat mengeluhkan kondisi tubuh yang kurang sehat sebelum peristiwa itu terjadi. Berdasarkan cerita yang diterima keluarga, rekan-rekan Reyhan di kapal sempat menyarankannya untuk beristirahat. Namun, Reyhan disebut tetap ingin bekerja.
“Katanya, saat itu Reyhan sedang tidak enak badan, makanya disuruh istirahat saja. Tapi dasarnya anaknya baik dan rajin, jadi walaupun sakit pun dia mau tetap kerja,” ujarnya.
Reyhan diketahui menjalani PKL di kapal penangkap ikan Putra Haji Mashudi asal Pati, Jawa Tengah, sejak April 2026. Ia dijadwalkan menyelesaikan masa praktiknya pada 28 Oktober mendatang. Namun, sebelum masa PKL berakhir, ia hilang saat membantu proses penurunan alat tangkap ikan jenis purse seine atau jaring lingkar dari kapal. (*)
