Cegah Radikalisme dengan Memperkuat Peran Pesantren dalam Meningkatkan Literasi Digital Generasi Muda

Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof KH Didin Nurul Rosidin MA PhD
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof KH Didin Nurul Rosidin MA PhD menyampaikan, perpaduan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang ditanamkan di pesantren, dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda untuk membentengi diri dari pengaruh paham radikal. --FOTO: ISTI--
0 Komentar

Nilai tawadhu, tasamuh, tawazun, tawassuth, dan i’tidal ditanamkan untuk membangun kerendahan hati, toleransi, keseimbangan, sikap moderat, dan keadilan.

Prinsip-prinsip tersebut menjadi bekal dalam membangun hubungan sosial yang harmonis serta mencegah perbedaan berkembang menjadi penghinaan maupun kekerasan.

Pesantren juga memiliki rekam jejak historis dalam mempertahankan bangsa, salah satunya melalui Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945.

Baca Juga:Ada Apa dengan Manchester United? Lawan Como Saja Babak Belur782 Anak di 18 Provinsi Terpapar Konten Kekerasan, Ini yang Dilakukan BNPT

Warisan perjuangan tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk pengabdian pada masa kini, termasuk melalui upaya memperkuat kehidupan masyarakat yang beradab dan menjaga persatuan nasional.

Di tengah perkembangan teknologi informasi, kolaborasi antara lembaga pendidikan dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menjadi semakin penting.

Sinergi tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan pencegahan yang mendukung generasi muda untuk memperoleh pengetahuan, menyampaikan pertanyaan, berdialog, dan menghadapi perbedaan tanpa kekerasan.

Prof KH Didin Nurul Rosidin menilai, keberadaan BNPT masih dibutuhkan untuk merespons berbagai persoalan intoleransi dan radikalisme yang masih terjadi.

“BNPT masih sangat relevan hingga kini karena memang secara faktual kita masih menghadapi persoalan itu. Maka kalau saya boleh usulkan, yang harus dilakukan oleh BNPT adalah membangun lingkungan atau ekosistem yang memungkinkan generasi muda belajar, bertanya, merasa dihargai, dan menyelesaikan perbedaan secara damai,” jelasnya.

Menurutnya, upaya tersebut dapat diwujudkan melalui sejumlah langkah nyata. Salah satunya dengan membangun kemitraan pendidikan jangka panjang yang melibatkan pengasuh pesantren, kalangan akademisi, dan BNPT.

Selain itu, pembelajaran berbasis kasus nyata perlu dikembangkan agar generasi muda memiliki kemampuan mengenali dan merespons narasi yang mengandung provokasi.

Baca Juga:Tim Manajer Kontingen Kota Cirebon pada Porprov Jabar XV/2026 Gelar Monev ke Cabor-caborSagara Haornas Cup 2026 Diikuti 28 Tim SMA, Jadi Ajang Pengembangan Basket Pelajar

Dalam upaya mencegah intoleransi di kalangan anak muda, Prof Didin mengusulkan agar BNPT mengembangkan model pembelajaran berbasis kasus yang sesuai dengan kompetensi dan materi pencegahan yang dimiliki lembaga tersebut.

Melalui pendekatan ini, generasi muda dapat berlatih menganalisis berbagai situasi, seperti potongan ceramah yang memprovokasi, pemberitaan konflik yang tidak disertai sumber tepercaya, hingga ajakan untuk menyerang kelompok lain dengan dalih pembenaran tertentu.

Keterlibatan generasi muda dalam merancang program pencegahan juga perlu diperkuat. Dengan memberikan ruang partisipasi kepada mereka, pesan-pesan pencegahan dapat dikemas menggunakan bahasa, media, dan pendekatan yang lebih dekat dengan karakter Generasi Z dan Generasi Alfa.

0 Komentar