RADARCIREBON.ID – Peringatan Hari Santri Nasional setiap 22 Oktober, menjadi kesempatan untuk kembali menegaskan kontribusi pesantren dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa.
Di tengah meningkatnya tantangan intoleransi, radikalisme, serta ekstremisme yang menggunakan kekerasan di ruang digital, pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam, memiliki peran strategis dalam memperkuat ketahanan ideologi generasi muda.
Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, Prof KH Didin Nurul Rosidin MA PhD menyampaikan beberapa hal.
Baca Juga:Ada Apa dengan Manchester United? Lawan Como Saja Babak Belur782 Anak di 18 Provinsi Terpapar Konten Kekerasan, Ini yang Dilakukan BNPT
Menurutnya, perpaduan nilai-nilai keislaman dan kebangsaan yang ditanamkan di pesantren, dapat menjadi fondasi kuat bagi generasi muda untuk membentengi diri dari pengaruh paham radikal.
“Kekuatan utama santri itu terletak pada pertemuan antara kedalaman ilmu, pendidikan akhlak, pengalaman hidup bersama, dan kesadaran kebangsaan,”ujarnya.
“Maka otomatis, ketika keempatnya berjalan dengan baik, pesantren sebenarnya mempunyai modal penting untuk membentuk ketahanan terhadap intoleransi, ekstremisme, dan juga kekerasan,” ujar Prof Didin di Cirebon, Kamis (22/10/2026).
Meski demikian, ia menekankan bahwa kemampuan menangkal paham radikal tidak terbentuk secara otomatis. Sikap moderat dan toleran perlu dikembangkan melalui pendidikan yang terarah, konsisten, dan berkelanjutan.
“Namun, kita juga harus menyadari bahwa status sebagai santri itu tidak otomatis membuat mereka menjadi kebal terhadap propaganda. Inilah yang kemudian harus kita jadikan refleksi bahwa ketahanan itu merupakan hasil pendidikan yang harus terus dirawat,” jelas Prof Didin.
Ia menjelaskan bahwa tradisi keilmuan pesantren, membiasakan santri untuk memahami persoalan agama secara mendalam, sebelum menarik kesimpulan.
Melalui metode pembelajaran seperti sorogan, bandongan, dan musyawarah, para santri dilatih untuk memahami keragaman pendapat serta menyikapinya dengan bijaksana.
Baca Juga:Tim Manajer Kontingen Kota Cirebon pada Porprov Jabar XV/2026 Gelar Monev ke Cabor-caborSagara Haornas Cup 2026 Diikuti 28 Tim SMA, Jadi Ajang Pengembangan Basket Pelajar
“Santri belajar bahasa, membaca kitab, kemudian memahami penjelasan guru, dan mengenali perbedaan pendapat ulama. Nah, ini tentunya diharapkan membuat santri berlatih untuk lebih berhati-hati menghadapi kesimpulan keagamaan yang terlalu instan dan terlalu mudah, terutama yang suka mengkafirkan, suka menyesatkan, atau menghalalkan kekerasan terhadap orang lain,” ungkapnya.
Selain melalui pembelajaran di kelas, kehidupan bersama di lingkungan asrama juga membentuk karakter santri.
