RADARCIREBON.ID – Saluran irigasi tersier sepanjang 1,2 kilometer di Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, akhirnya mendapat penanganan normalisasi setelah puluhan tahun tidak tersentuh perbaikan serupa. Kondisi saluran yang lama tidak dinormalisasi itu dikeluhkan para kuwu karena kerap memicu banjir di sejumlah desa.
Normalisasi dilakukan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kabupaten Cirebon melalui Bidang Sumber Daya Air (SDA), bekerja sama dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung.
Kepala Bidang SDA DPUTR Kabupaten Cirebon, Bambang Afrianto mengatakan, penanganan tersebut merupakan tindak lanjut atas aspirasi pemerintah desa yang selama ini menghadapi persoalan banjir akibat kondisi saluran irigasi.
Baca Juga:Poltekkes Tasikmalaya Latih Kader Olah Sup Krim BergiziPolres Cirebon Kota Ungkap 12 Kasus Narkoba, 20 Tersangka
“Memang ada keluhan dari para kuwu di daerah Panguragan. Saluran tersebut sudah puluhan tahun tidak dilakukan normalisasi, sehingga sering menyebabkan banjir di berbagai desa di wilayah Panguragan,” ujarnya.
Menurut Bambang, normalisasi sepanjang 1,2 kilometer diperlukan untuk mengembalikan fungsi saluran agar aliran air lebih lancar.
“Penanganan ini juga menjadi bagian dari upaya mengurangi risiko banjir yang selama ini mengganggu masyarakat di wilayah Panguragan,” tuturnya.
Lebih lanjut, dikatakan Bambang, Pemerintah daerah menggandeng BBWS Cimanuk Cisanggarung dalam pelaksanaan normalisasi tersebut.
“Kolaborasi ini dilakukan untuk menangani saluran irigasi yang membutuhkan perhatian setelah bertahun-tahun tidak mendapatkan normalisasi,” katanya.
Saluran irigasi yang kondisinya tidak optimal berpotensi menghambat aliran air, terutama saat debit meningkat pada musim hujan.
Karena itu, normalisasi diharapkan mampu meningkatkan kapasitas aliran dan mengurangi potensi genangan di desa-desa yang terdampak.
Baca Juga:Guru SMPN 1 Kota Cirebon Asep Syaefurrachman Ikuti Seleksi ASN Berprestasi 2026Bantu Warga Penuhi Kebutuhan Pangan, Kecamatan Kejaksan Gelar GPM
Meski demikian, efektivitas penanganan dalam mengurangi banjir akan bergantung pada kondisi saluran secara keseluruhan serta pemeliharaan setelah normalisasi dilakukan.
“Kami berharap penanganan ini dapat menjawab keluhan pemerintah desa sekaligus mengurangi risiko banjir yang selama ini menjadi persoalan warga Panguragan,” pungkasnya. (den)
