KPPG juga menyoroti proses pengolahan bahan pangan. Dalam pemeriksaan awal, pengelola SPPG mengakui telur puyuh dibeli dari pemasok luar dan diolah di luar dapur SPPG. Menurut Yulian, petunjuk teknis mengharuskan seluruh bahan pangan diolah dan dimasak di dapur SPPG. Pengolahan oleh pemasok di luar dapur tidak diperbolehkan.
Temuan tersebut menjadi bahan evaluasi, tetapi belum dapat dipastikan sebagai penyebab dugaan keracunan. Kepastian penyebab masih menunggu hasil uji laboratorium dan penyelidikan lebih lanjut. Selain menyelidiki kejadian tersebut, KPPG juga mengevaluasi kesiapan infrastruktur SPPG di Kota Cirebon.
Dari 48 SPPG yang beroperasi di Kota Cirebon, dua di antaranya teridentifikasi perlu menghentikan sementara operasional untuk memperbaiki sarana dan prasarana yang belum memenuhi persyaratan. Pendataan terhadap SPPG lain masih berlangsung bersama koordinator wilayah. Karena itu, jumlah SPPG yang perlu melakukan perbaikan masih mungkin bertambah. “Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan layanan MBG berjalan sesuai ketentuan,” pungkas Yulian.
Baca Juga:Fahmi Ummi Perluas Peran Muslimah Harus Cerdas, Mandiri, Kritis, dan BerdayaMemburu Sisa Aset di Balik Kredit Fiktif BPR Karya Remaja Indramayu, Kejaksaan Serahkan Uang Hasil Sitaan
KPPG Cirebon memberikan kontak informasi bagi masyarakat yang masih ragu atau merasa bingung terkait mekanisme cover biaya oleh BGN. Yakni bisa menghubungi kontak 085321978767.
MAHASISWA DEMO LAGI
Sementara itu, puluhan mahasiswa kembali menggelar aksi unjuk rasa di depan DPRD Kota Cirebon, Jumat sore (23/10/2026). Mereka menuntut pertanggungjawaban pihak terkait atas peristiwa dugaan keracunan masal yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kota Cirebon.
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan orasi dan mendesak DPRD Kota Cirebon untuk menghadirkan seluruh anggotanya guna memberikan penjelasan serta jawaban atas tuntutan yang mereka sampaikan.
Situasi sempat memanas setelah sejumlah mahasiswa mengaku mendapat dorongan dan intervensi dari beberapa orang yang mereka duga bukan bagian dari aparat kepolisian. Setelah itu, mahasiswa dipersilakan memasuki ruang Griya Sawala untuk melakukan audiensi dengan pihak terkait.
Audiensi berlangsung cukup alot. Mahasiswa tetap bertahan hingga petang karena menginginkan kehadiran seluruh anggota DPRD Kota Cirebon. Bahkan, mereka turut mengundang pedagang cilok untuk masuk ke ruang Griya Sawala, tempat anggota DPRD biasanya menggelar rapat paripurna. Salah satu perwakilan mahasiswa, Sanggam Yosefa, mengaku kecewa atas dugaan tindakan kekerasan yang dialami sejumlah peserta aksi. Ia menyebut terdapat mahasiswa yang mengalami luka akibat insiden tersebut.
