Sekolah Kaji Kelanjutan MBG, Mahasiswa Kembali Demo di DPRD Kota Cirebon

MBG: Demonstrasi Mahasiswa
PROTES: Mahasiswa kembali menggelar aksi di DPRD Kota Cirebon, Jumat (23/10/2026), menyoroti dugaan keracunan MBG yang menyebabkan ratusan orang harus dilarikan ke rumah sakit. Foto: Seno Dwi Priyanto/Radar Cirebon
0 Komentar

“Ada yang mengalami luka di sini. Tadi yang mengintervensi kami bukan hanya dari kepolisian, tetapi juga ada bapak-bapak yang saya rasa bukan dari masyarakat. Kami didorong, bahkan diajak sampai hampir berkelahi dan ditantangin oleh bapak-bapak tersebut,” ujar Sanggam.

Ia mempertanyakan bentuk perlindungan yang diberikan kepolisian kepada mahasiswa saat menyampaikan aspirasi. Menurutnya, mahasiswa justru merasa menjadi pihak yang mengalami tindakan kekerasan ketika menjalankan hak untuk menyampaikan pendapat.

Sanggam menegaskan, pihaknya telah mengirimkan surat kepada kepolisian dan berencana menindaklanjuti dugaan kekerasan yang dialami rekan-rekannya. “Kami sudah mengirim surat kepada kepolisian. Kami akan datang untuk menyampaikan dan menuntut keadilan bagi kawan-kawan kami yang terluka. Hal ini tidak akan berhenti sampai di sini,” tegasnya.

Baca Juga:Fahmi Ummi Perluas Peran Muslimah Harus Cerdas, Mandiri, Kritis, dan BerdayaMemburu Sisa Aset di Balik Kredit Fiktif BPR Karya Remaja Indramayu, Kejaksaan Serahkan Uang Hasil Sitaan

Sementara terkait dengan tuntutan dalam aksi unjukrasa tersebut, mahasiswa menuntut terkait dengan penanganan korban keracunan diduga dari program MBG. Mereka menolak sikap pemerintah yang dinilai belum memberikan perhatian menyeluruh terhadap persoalan mekanisme dan prosedur operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalijaga 5.

Mahasiswa mendesak evaluasi menyeluruh terhadap SPPG tersebut. Mereka bahkan menilai SPPG Kalijaga 5 sudah tidak layak beroperasi dan meminta agar operasionalnya dihentikan permanen. Mahasiswa juga menilai tanggung jawab terhadap korban tidak boleh sebatas pada pembiayaan pengobatan medis. Menurut Sanggam, pemerintah melalui BGN perlu memperhatikan kerugian materiil, pemulihan psikologis, serta trauma yang dialami anak-anak setelah peristiwa tersebut.

Di tempat yang sama, Koordinator Wilayah BGN Cirebon Yoga Adijaya menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa dugaan keracunan tersebut. Ia mengaku memahami kemarahan masyarakat dan menyatakan akan meneruskan aspirasi mahasiswa kepada pimpinan BGN.

Ia menjelaskan, setelah muncul indikasi keracunan, tim dari pusat langsung melakukan investigasi dan pemeriksaan laboratorium. Katanya, SPPG yang diduga berkaitan dengan kejadian tersebut juga telah disetop sejak peristiwa terjadi hingga batas waktu yang ditentukan.

Terkait tuntutan mahasiswa mengenai pemulihan korban, Yoga menyatakan bahwa pihaknya dapat memastikan pembiayaan pemulihan kesehatan dan pengobatan ditanggung oleh BGN. Namun, tuntutan mahasiswa mengenai ganti rugi materiil dan pendampingan trauma secara menyeluruh masih menjadi sorotan dalam audiensi tersebut. (ade/cep)

0 Komentar